Kisah Ilham, Siswa SMPN 41 Padang Sebrangi Sungai Pergi Sekolah Usai Jembatan Rusak 

8 hours ago 12

Langgam.id – Rabu (12/8/2026), pukul 06.45 WIB, saat sebagian anak sekolah mulai bersiap memasuki ruang kelas, Ilham justru tengah menapaki tepian sungai bersama sejumlah teman-temannya. Di tangannya, sepasang sepatu dijinjing. 

Celananya tampak diangkat hingga lutut. Di hadapannya, aliran sungai menjadi satu-satunya jalan yang harus dilewati untuk sampai ke sekolah.

Ilham merupakan siswa SMP Negeri 41 Kota Padang. Rumahnya berada di kawasan yang tepat berseberangan dengan lokasi sekolah. 

Secara jarak, sekolah itu sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Namun sejak Jembatan Kampung Tanjung ditutup pada 7 Agustus 2026 karena mulai diperbaiki dan dibangun kembali, perjalanan yang biasanya cukup dilakukan dengan melewati jembatan kini berubah menjadi menyeberangi sungai.

Setiap pagi, Ilham berangkat dari rumah sekitar pukul setengah tujuh. Ia harus tiba di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB karena kegiatan belajar mengajar sudah dimulai pada jam tersebut. Bersama teman-temannya, ia kemudian menuju sungai yang berada tepat di bawah jembatan yang kini sudah hampir rampung dibongkar.

Begitu sampai di tepian sungai, sepatu dilepas dan dijinjing. Celana dinaikkan agar tidak terkena air. Setelah itu, Ilham dan teman-temannya mulai menyeberang. Air sungai yang dilewatinya memang tidak terlalu dalam. Bagi Ilham, ketinggiannya mencapai sekitar betis.

“Saya berangkat sekitar setengah tujuh. Karena sekolah masuk jam tujuh, jadi sebelum jam tujuh harus sudah sampai. Sejak tanggal 7 kemarin sudah menyeberang sungai,” kata Ilham saat ditemui Langgam.id, Rabu (12/8/2026).

Rutinitas itu kini dilakukan Ilham setiap pagi. Tidak hanya seorang diri, ia menyeberang bersama teman-temannya yang juga harus menuju SMP Negeri 41 Kota Padang.

Bagi Ilham, menyeberangi sungai sebenarnya bukan pilihan yang diambil tanpa alasan. Jembatan yang selama ini menjadi akses utama sudah ditutup untuk proses perbaikan. 

Jika harus mencari jalan lain dengan memutar, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama. Karena itu, sungai menjadi jalan tercepat bagi Ilham untuk sampai ke sekolah tepat waktu.

Ironisnya, sungai yang kini menjadi jalur Ilham menuju sekolah merupakan sungai yang sama yang beberapa waktu lalu sempat meluap dan mengamuk saat banjir melanda Kota Padang. Aliran airnya pernah merendam kawasan SMP Negeri 41 Kota Padang, membuat lingkungan sekolah terdampak genangan dan lumpur.

Kini, beberapa waktu setelah banjir tersebut, Ilham justru harus kembali berhadapan dengan sungai itu setiap pagi. Bedanya, kali ini bukan karena banjir, melainkan karena akses jembatan yang sedang diperbaiki.

Pagi itu, air sungai relatif tenang dan dangkal. Ilham hanya perlu mengangkat celananya dan membawa sepatu di tangan. Beberapa langkah kemudian, ia sampai di seberang. Dari sana, sekolahnya sudah terlihat.

Jarak antara rumah dan sekolah sebenarnya begitu dekat. Hanya saja, sejak 7 Agustus, kedekatan itu tidak lagi berarti perjalanan yang mudah. Sebuah jembatan yang sedang dibangun ulang membuat Ilham harus menemukan cara lain untuk mencapai ruang kelas.

Setiap hari, sebelum bel sekolah dan sebelum guru memulai pelajaran, Ilham bersama teman-temannya kembali melakukan perjalanan yang sama yaitu turun ke sungai, berjalan menembus air setinggi betis, kemudian naik ke tepian dan melanjutkan langkah menuju sekolah.

Begitulah perjalanan Ilham menuju sekolah sejak jembatan Kampung Tanjung ditutup. Bagi siswa seusianya di SMP yang ada di Kota Padang perjalanan beberapa menit itu mungkin sederhana. Namun setiap pagi, perjalanan tersebut menjadi bagian dari perjuangannya agar tidak terlambat mengikuti pelajaran di sekolah. (WAN)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |