Anggota DPR Mulyadi Ingatkan Bahaya Judol yang Makin Canggih: Jebakan Sistematis dan Terstruktur!

7 hours ago 8

Langgam.id – Praktik judi online (judol) terus berkembang dengan pola yang semakin canggih dan sulit dideteksi. Fenomena ini dinilai bukan lagi sekadar hiburan, tetapi ancaman serius yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Hal itu dinyatakan Anggota Komisi I DPR RI, Mulyadi, dalam Forum Diskusi Publik bertema “Bijak Digital tanpa Judi Online” yang digelar Rabu (22/4/2026).

Menurut Mulyadi, praktik judol telah dirancang secara sistematis dan terstruktur, sehingga berpotensi menjebak masyarakat yang tidak waspada dalam memanfaatkan teknologi digital.

“Kita tidak sedang berbicara tentang hiburan, tetapi tentang jebakan yang sistematis dan terstruktur,” kata Mulyadi.

Ketua DPD Partai Demokrat Sumbar itu menyebutkan, banyak masyarakat yang awalnya hanya mencoba, namun kemudian terjerat lebih dalam hingga kehilangan kendali. Kondisi ini kerap berujung pada kerugian besar, baik secara finansial maupun sosial.

“Tidak sedikit yang terjerat utang, mengalami konflik keluarga, kehilangan pekerjaan, bahkan terlibat dalam tindakan kriminal sebagai dampak lanjutan,” katanya.

Ia menjelaskan, pesatnya perkembangan teknologi di era revolusi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara bekerja hingga pola interaksi sosial. Internet kini menjadi ruang publik baru yang menghadirkan peluang sekaligus risiko dalam waktu bersamaan.

“Internet telah menjadi ruang baru ruang publik digital, yang mempertemukan peluang dan risiko dalam waktu yang bersamaan,” imbuhnya.

Di satu sisi, lanjut Mulyadi, teknologi digital memberikan banyak manfaat, seperti membuka peluang ekonomi, mempercepat akses informasi, serta meningkatkan kualitas hidup. Namun di sisi lain, ruang digital juga menjadi ladang subur bagi praktik judi online yang kian masif.

Ia menyoroti generasi muda sebagai kelompok paling rentan terhadap paparan judol. Tingginya intensitas penggunaan internet tidak selalu diimbangi dengan kemampuan literasi digital dan literasi keuangan yang memadai.

“Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka adalah pengguna internet paling aktif, tetapi belum tentu memiliki bekal literasi digital dan literasi keuangan yang memadai. Di sinilah letak tantangan kita,” ungkapnya.

Mulyadi juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat yang semakin terhubung secara digital, namun belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis.

“Kita melihat fenomena ini dengan keprihatinan yang mendalam. Masyarakat kita semakin terkoneksi dengan dunia digital, namun belum semuanya memiliki kemampuan untuk menyaring informasi secara kritis,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa upaya pemberantasan judi online tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum semata. Pemblokiran situs dan penindakan terhadap pelaku dinilai penting, tetapi belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

“Kita membutuhkan pendekatan yang lebih mendasar, yaitu edukasi dan literasi. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan untuk berpikir kritis, memahami risiko, serta mengambil keputusan yang bijak dalam ruang digital,” tegasnya.

Melalui forum tersebut, Mulyadi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan gerakan “Bijak Digital tanpa Judi Online” sebagai upaya bersama, bukan sekadar slogan.

“Kita memiliki peluang besar untuk melawan judi online dengan memanfaatkan kekuatan yang sama, yaitu teknologi digital. Media sosial dapat kita ubah dari sarana penyebaran konten negatif menjadi alat edukasi yang inspiratif. Saya mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi menjadi penggerak,” katanya.

Selain Mulyadi, forum tersebut juga menghadirkan Pemimpin Redaksi Kata Sumbar, Andika D Khagen, sebagai narasumber. (ICA)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |