Lewat IORA, Civitas Akademika UNAND Diminta Aktif Riset dan Diplomasi

8 hours ago 10

Langgam.id — Samudra Hindia bukan sekadar hamparan laut yang membentang di hadapan Sumatera Barat. Kawasan tersebut merupakan jalur strategis perdagangan dunia sekaligus ruang penting bagi Indonesia untuk memperkuat kepentingan ekonomi, diplomasi, dan kerja sama internasional.

Karena itu, perguruan tinggi didorong mengambil peran lebih besar dalam memanfaatkan posisi strategis tersebut, salah satunya melalui riset dan kolaborasi internasional.

Hal itu mengemuka dalam kuliah umum yang digelar Universitas Andalas (UNAND) bersama mahasiswa baru dengan menghadirkan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Dr. Santo Darmasumarto, di Auditorium UNAND, Selasa (11/8/2026).

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Memperjuangkan Kepentingan Nasional Indonesia di Samudra Hindia melalui IORA”.

Santo mengatakan, masyarakat Sumatera Barat, khususnya generasi muda dan sivitas akademika UNAND, perlu mengubah cara pandang terhadap Samudra Hindia. Laut yang selama ini seolah menjadi batas wilayah justru menyimpan peluang besar bagi pengembangan kerja sama dan kepentingan Indonesia.

“Sebagai orang yang tinggal di Sumatera Barat, kita seharusnya melihat ke Samudra Hindia. Samudra Hindia merupakan jalur perdagangan yang sangat krusial. Karena itu, jangan terus memunggungi Samudra Hindia,” ujarnya.

Menurut Santo, posisi geografis Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia merupakan modal strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Salah satu ruang kerja sama yang dapat dimanfaatkan adalah Indian Ocean Rim Association (IORA). Organisasi tersebut kini memiliki 23 negara anggota dan Indonesia merupakan salah satu negara pendiri sekaligus pemain penting di dalamnya.

Indonesia saat ini juga dipercaya memimpin Working Group IORA di bidang blue economy atau ekonomi biru. Posisi tersebut dinilai membuka peluang lebih luas bagi Indonesia untuk mengembangkan penelitian dan kerja sama di bidang kelautan.

“Indonesia saat ini menjadi ketua Working Group mengenai blue economy. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi Indonesia untuk mengembangkan kerja sama dan penelitian di bidang ekonomi biru,” katanya.

Santo secara khusus mendorong UNAND untuk mengambil bagian dalam peluang tersebut. Perguruan tinggi, katanya, dapat memperkuat diplomasi Indonesia melalui penelitian yang relevan dengan berbagai persoalan strategis di kawasan Samudra Hindia.

Ia mengajak akademisi UNAND lebih aktif mengajukan proposal penelitian sekaligus membangun jejaring dengan perguruan tinggi dan institusi di negara-negara anggota IORA.

Rektor UNAND Efa Yonnedi mengatakan, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam memperkuat diplomasi melalui pendidikan, penelitian, serta mobilitas akademik internasional.

UNAND, kata dia, terus memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi di negara-negara IORA, antara lain melalui pertukaran mahasiswa, credit earning, hingga riset kolaboratif.

“Posisi Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia merupakan modal strategis yang perlu kita manfaatkan untuk membangun jejaring akademik yang semakin kuat,” ujarnya.

Upaya tersebut berjalan seiring dengan penguatan internasionalisasi UNAND. Pada tahun ini, sekitar 2.000 pelamar mahasiswa internasional dari 45 negara tercatat mendaftar ke UNAND. Dari jumlah tersebut, kurang dari 50 mahasiswa akhirnya diterima.

Menurut Efa, tingginya minat tersebut menunjukkan UNAND mulai semakin dikenal di tingkat internasional, termasuk di negara-negara anggota IORA seperti Madagaskar.

Kehadiran mahasiswa internasional tidak hanya memperkaya lingkungan akademik kampus, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi pendidikan. Hubungan yang terbangun antarmahasiswa dan antarperguruan tinggi dapat menjadi jembatan untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.

Melalui kuliah umum tersebut, mahasiswa baru UNAND didorong melihat Samudra Hindia dari perspektif yang lebih luas. Bukan hanya sebagai batas geografis di sebelah barat Sumatera Barat, tetapi sebagai ruang strategis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi biru, inovasi, diplomasi, dan kolaborasi global.

Dengan posisi geografis yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, Sumatera Barat memiliki peluang untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam dinamika kawasan, tetapi ikut memainkan peran melalui kekuatan akademik, riset, dan jejaring internasional. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |