Dampak Ekonomi Perang: Hormuz Dibuka, Plastik Belum Aman

2 hours ago 2

Pembukaan kembali Selat Hormuz memberi kabar baik bagi pasar energi global. Harga minyak turun dari sekitar US$95 per barel ke bawah US$89, dan pasar mulai melihat ruang bagi meredanya tekanan inflasi global. Reuters mencatat perkembangan itu ikut mengubah pembacaan pasar terhadap arah suku bunga The Fed karena turunnya harga energi dapat mengurangi beban biaya dan memperbaiki daya beli. Bagi Indonesia, sinyal ini penting. Penurunan tekanan energi berpeluang meringankan biaya impor, transportasi, dan inflasi barang yang sensitif terhadap ongkos distribusi. Akan tetapi, membaca pembukaan Hormuz sebagai tanda bahaya telah berlalu adalah langkah yang terlalu dini. Reuters juga melaporkan bahwa sebelum jalur ini dibuka kembali, perang telah memangkas lalu lintas pelayaran menjadi hanya sebagian kecil dari level normal, membuat ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut terjebak di kawasan Teluk. Artinya, pasar belum pulih. Pasar baru keluar dari fase paling akut.

Indonesia perlu memahami situasi ini dengan kacamata yang lebih utuh. Selat Hormuz bukan sekadar jalur minyak mentah. Selat ini adalah nadi perdagangan energi, gas, pupuk, dan bahan antara yang menopang industri manufaktur Asia. Ketika jalur itu terganggu, biaya logistik naik, premi asuransi naik, dan kepastian pengiriman turun. Ketika jalur itu dibuka kembali, tekanan paling tajam memang mereda. Akan tetapi, biaya yang sudah telanjur naik tidak otomatis kembali ke posisi semula. Pelaku pasar tetap menghitung risiko, terutama saat keamanan jalur dan stabilitas kawasan masih bergantung pada gencatan senjata dan negosiasi yang rapuh. Laporan Reuters tentang proposal Iran agar kapal keluar melalui sisi Oman tanpa ancaman serangan justru menunjukkan bahwa pasar maritim belum benar-benar kembali normal. Jalur dibuka, tetapi rasa aman belum pulih penuh.

Dampaknya bagi Indonesia menjalar ke banyak sektor. Sektor yang paling cepat merasakan efeknya adalah energi, logistik, industri pengemasan, makanan dan minuman, farmasi, elektronik, otomotif, dan barang konsumsi. Semua sektor ini bergantung pada plastik, bahan kimia antara, dan kelancaran pengiriman. Data harga yang telah dibahas memperlihatkan bahwa tekanan di pasar petrokimia masih tinggi. Ethylene NEA tercatat US$1.435 per ton, Propylene Korea US$1.305 per ton, dan Butadiene Korea US$2.455 per ton. Pada level resin, PP Injection FEA berada di US$1.320 per ton, HDPE Film FEA US$1.300 per ton, LDPE GPF FEA US$1.530 per ton, dan LLDPE Film FEA US$1.250 per ton. Angka-angka ini menunjukkan bahwa biaya bahan baku plastik tetap tinggi, meski sentimen energi mulai membaik.
Sektor terdampak tidak langsung juga sangat luas. UMKM makanan, minuman, laundry, percetakan, toko kemasan, dan usaha rumah tangga akan merasakan tekanan saat harga botol, gelas, kantong, film pembungkus, dan wadah naik. Rumah tangga juga akan ikut menanggung beban ketika produsen meneruskan kenaikan biaya itu ke harga barang harian seperti air minum kemasan, makanan olahan, produk kebersihan, dan kebutuhan rumah tangga. Karena itu, pembukaan Hormuz tidak hanya relevan bagi pasar minyak. Perkembangan ini menyentuh struktur biaya ekonomi nasional dari hulu sampai hilir.

Lalu, apakah pembukaan Selat Hormuz dapat langsung diartikan sebagai sinyal turunnya harga plastik? Jawabannya tidak. Harga plastik tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Plastik lahir dari rantai yang lebih panjang: feedstock seperti nafta dan propana, lalu olefin seperti etilena dan propilena, lalu operasi kompleks petrokimia, baru akhirnya resin. Selama salah satu mata rantai ini masih tegang, harga plastik sulit turun cepat. Data feedstock memperlihatkan kondisi itu dengan jelas. Naphtha CIF NWE tercatat US$950 per ton, Naphtha 1H US$1.135 per ton, Naphtha 2H US$1.006 per ton, dan Propane C+F sekitar US$900,75 per ton. Jadi, meski harga minyak turun, biaya dasar petrokimia masih mahal.

Risiko itu bahkan menjadi lebih serius karena pusat petrokimia juga ikut menjadi sasaran serangan. Reuters melaporkan serangan terhadap kompleks petrokimia terbesar Iran di Asaluyeh serta fasilitas utilitasnya, dan serangan lain terhadap Marvdasht dalam rentang 24 jam. Ini sangat penting. Pabrik petrokimia tidak bisa berjalan lancar tanpa listrik, air proses, oksigen, dan jaringan utilitas yang stabil. Jadi, pembukaan Hormuz hanya meredakan risiko maritim. Risiko produksi petrokimia masih besar. Selama risiko ini belum hilang, pelaku pasar akan tetap menahan stok, memasukkan premi risiko ke harga, dan membeli kepastian dengan biaya tinggi.

Indonesia karena itu harus menjaga kewaspadaan. Pemerintah perlu memantau harga feedstock, resin, dan logistik secara ketat, membuka sumber impor alternatif, serta melindungi sektor prioritas seperti kemasan pangan dan farmasi. Pembukaan Hormuz patut disambut sebagai kabar baik. Akan tetapi, pasar plastik belum benar-benar aman. Optimisme perlu dijaga, kewaspadaan harus diperkuat.

*Penulis: Syafruddin Karimi (Guru Besar dan Dosen pada Departemen Ekonomi, Universitas Andalas)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |