SUKABUMI — SMKN 1 Cibadak terus mendorong pengembangan kreativitas dan inovasi peserta didik melalui pembelajaran berbasis robotik dan Internet of Things (IoT). Langkah tersebut dilakukan sebagai implementasi nyata pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (KKA) yang saat ini mulai diperkenalkan sebagai mata pelajaran pilihan di dunia pendidikan.
Kepala SMKN 1 Cibadak, Iwan mengatakan, pengembangan inovasi robotik dan IoT di sekolahnya lahir dari keinginan agar pembelajaran koding tidak hanya berhenti pada teori semata, tetapi mampu melahirkan karya nyata yang berguna bagi masyarakat.
Menurutnya, selama ini pembelajaran koding dan KKA yang berkembang masih terkesan miskin implementasi karena lebih banyak berfokus pada teori dibanding praktik langsung.
“Ide inovasi robotik dan IoT ini sebenarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran koding dan KKA. Setelah kami amati, program koding dan KKA yang diberitakan oleh Kementerian Pendidikan terlihat masih banyak teori dan minim implementasi. Maka SMKN 1 Cibadak mencoba menerapkannya dalam bentuk karya nyata,” ujar Iwan kepada wartawan.
Berbagai karya teknologi pun mulai dihasilkan siswa sesuai dengan jurusan yang ada di sekolah. Di antaranya smart farming, alat deteksi suhu, alat deteksi kebakaran, alat deteksi gempa, hingga sistem otomatisasi pemberian pakan ikan. Iwan menjelaskan, para siswa tidak diberi contoh detail dalam proses pembuatan alat tersebut. Mereka hanya dibekali dasar-dasar koding dan IoT, kemudian diberi kebebasan untuk mengembangkan ide masing-masing.
Namun hasil yang muncul justru di luar ekspektasi sekolah. Para siswa mampu menunjukkan kreativitas, improvisasi, serta semangat inovasi yang tinggi.
“Mereka hanya diberi dasar-dasar koding dan KKA saja. Tetapi ternyata anak-anak muda itu semangatnya lebih tinggi, improvisasinya lebih tinggi, dan inovasinya juga lebih tinggi. Ketika diberi ruang oleh sekolah untuk berekspresi, mereka mampu menunjukkan potensi yang luar biasa,” katanya.
Ia menilai metode pembelajaran berbasis proyek dan inovasi jauh lebih efektif dibanding pembelajaran yang hanya berlangsung di dalam kelas. Sebab siswa akan cepat merasa jenuh jika hanya menerima teori tanpa praktik.
“Kalau belajar terus di kelas dan menerima teori, mereka jenuh. Tetapi ketika diberi ruang untuk improvisasi dan berekspresi, muncul potensi-potensi yang bahkan melebihi ekspektasi sekolah,” ungkapnya.
Meski sebagian besar karya siswa masih berupa prototipe dengan kemasan sederhana, namun fungsinya dinilai sangat potensial jika dikembangkan lebih lanjut.
“Alhamdulillah siswa sangat antusias. Hasil karya mereka walaupun masih prototipe sederhana, tetapi jika dikembangkan akan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Ada deteksi gempa, deteksi kebakaran, smart farming, sampai otomatisasi pemberian pakan ikan,” jelasnya.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas siswa, pihak sekolah juga menyiapkan penghargaan khusus untuk karya terbaik dalam dua kategori, yakni robotik dan IoT.
Untuk juara pertama akan mendapatkan hadiah Rp1 juta, juara kedua Rp500 ribu, dan juara ketiga Rp250 ribu. Sementara juara umum kelas akan memperoleh reward sebesar Rp750 ribu.
Iwan menambahkan, karya siswa ke depan akan terus disempurnakan melalui pembinaan guru agar memiliki desain, kemasan, dan prototipe yang lebih baik sehingga berpotensi menjadi produk komersial.
“Motivasi mereka sebenarnya sudah tumbuh. Tinggal nanti diberikan polesan dari guru, bagaimana mengemas produk dengan baik, bagaimana membuat prototipe lebih bagus sehingga punya nilai komersial,” terangnya.
Ia berharap para siswa ke depan mampu menciptakan inovasi teknologi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki tampilan menarik dan siap bersaing di pasar.
Selain itu, SMKN 1 Cibadak saat ini juga menjadi salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah manusia unggul. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi dan kualitas siswa, khususnya dalam penguasaan teknologi dan inovasi.
“Untuk siswa kelas 11 dan 12 memang belum masuk program manusia unggul. Karena itu kami berupaya meningkatkan pengetahuan dan kompetensi mereka agar ikut menjadi manusia unggul, salah satunya melalui ekspresi diri lewat teknologi dan inovasi,” tambahnya.
Salah satu inovasi yang cukup menarik perhatian dalam kegiatan tersebut adalah robot pendeteksi gempa bernama “GeoDetector 10 A1”.
Robot tersebut dibuat oleh kelompok siswa kelas 10 A1 yang terdiri dari Zhaneta Rizki Pratama, Muhammad Ramdan Rahmat Syah, Berlian Aulia Noorridwan, dan Raka Abdul Aziz.
Zhaneta Rizki Pratama menjelaskan, alat tersebut bekerja menggunakan sensor gyroscope untuk mendeteksi getaran yang berpotensi menjadi gempa bumi.
“Cara kerjanya menggunakan sensor gyroscope untuk mendeteksi getaran. Dari sensor itu datanya dikirim ke ESP32 untuk menentukan apakah getaran tersebut termasuk gempa atau bukan,” ujarnya.
Jika getaran masih dalam batas aman, maka lampu LED kuning akan menyala. Sedangkan jika terindikasi gempa, LED merah dan buzzer akan aktif sebagai tanda peringatan.
Selain itu, sistem juga terhubung dengan aplikasi sehingga proses pemantauan dapat dilakukan secara digital.
Menurut Zhaneta, ide penggunaan sensor tersebut terinspirasi dari teknologi gyroscope yang terdapat pada telepon genggam.
“Idenya berasal dari sensor gyroscope di handphone. Kalau handphone digerakkan sedikit saja, sensornya bisa membaca pergerakan,” katanya.
Untuk membuat robot tersebut, tim hanya membutuhkan biaya sekitar Rp250 ribu dengan waktu pengerjaan sekitar dua hingga tiga hari.
Meski masih berupa prototipe sederhana, mereka optimistis alat tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut agar bisa diterapkan langsung di masyarakat.
“Kalau mau dikembangkan lebih besar tentu bisa, hanya memang perlu tambahan beberapa komponen lagi,” jelasnya.
Mereka memilih membuat alat deteksi gempa karena Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan bencana gempa bumi.
“Menurut saya Indonesia termasuk negara yang sering terjadi gempa, jadi mudah-mudahan alat ini bisa bermanfaat ke depannya,” pungkasnya.(wdy)

5 hours ago
11










































