Akhirnya terjawab. Penyebab utama black out listrik di Sumatera tengah, utara, dan Aceh Jumat lalu adalah ini: Pet Byar putusnya sambungan kabel di transmisi 275 kv antara Aur Duri dan Garuda Sakti. Bukan akibat sabotase oleh antek asing.
Aur Duri adalah gardu induk PLN yang lokasinya di antara kota Sungai Penuh dan danau Kerinci. Itu wilayah Jambi tapi sudah dekat perbatasan Sumbar. Garuda Sakti adalah gardu induk di Sumatera sisi timur, di Teluk Lembu dekat Pekanbaru, Riau.
Ketika saya di Nanning, Tiongkok selatan ini, saya mendapat kiriman video konferensi pers di Bareskrim Mabes Polri soal penyebab black out itu. Saya putar dua kali. Jelas, penyebabnya kabel transmisi yang putus. Putus sendiri akibat angin kencang, badai, dan hujan lebat. Itu, katanya, sesuai dengan data di BMKG.
Sebenarnya umur transmisi di situ belum tua. Tapi transmisi listrik tegangan tinggi memang sangat panas. Bisa memuai. Transmisi di mana pun pasti terkena hantaman angin ribuan bahkan jutaan kali. Seperti digoyang-goyang terus. Karena itu sambungan kabelnya harus kuat tapi aman.
Cara menyambung kabelnya tidak sama dengan menyambung kabel kecil. Ukuran kabel transmisi 275 kv sebesar lengan gadis Padang. Tidak mudah ditekuk. Maka cara menyambungnya spesial: dua ujung kabel itu dimasukkan ke dalam selongsong besi dari dua arah. Ketika dua ujungnya sudah tersambung di dalam selongsong, selongsong baja tersebut di-press. Sangat kuat. Begitulah praktik di seluruh dunia.
Pabrik kabel di Indonesia hanya bisa membuat kabel yang panjangnya setengah kilometer. Padahal jarak tower di transmisi 275 kv adalah 400 meter. Kadang 500 meter. Tergantung kondisi lahan yang dilewati.
Di Tiongkok sudah ada pabrik kabel (kabel transmisi disebut konduktor) sepanjang satu kilometer sampai 2,5 km. Ukuran panjang konduktor itu bukan hanya soal bisa atau tidak bisa, tapi juga bagaimana mengangkutnya ke lokasi transmisi: berat sekali. Konduktor yang lebih pendek mengangkutnya lebih mudah.
Apakah sambungan itu bisa putus tiba-tiba? Mestinya tidak kecuali takdirnya begitu. Proses putusnya seharusnya bertahap. Di tahapan awalnya lambat. Kian cepat karena di bagian yang sudah cacat itu akan lebih panas.
Karena itu di PLN ada SOP kontrol transmisi. Utamanya kontrol gardu induk. Kenapa gardu induk perlu lebih sering dikontrol? Anda sudah tahu jawabnya: di situlah terjadi sambungan konduktor terbanyak.
Cara inspeksinya pun Anda sudah tahu: pakai kamera infrared. Setiap sambungan dibidik: apakah suhunya lebih tinggi dari sekitarnya. Kalau perbedaan suhu di sambungan itu tinggi sudah waktunya ada pemeliharaan.
Tentu membawa ”stetoskop” seperti itu ke transmisi 275 kv tidak semudah ke gardu induk. Tinggi tower listrik 275 kv sekitar 30 meter. Tinggi kabel di tengah antara dua tower bisa 18 meter. Lokasinya pun kadang di gunung. Kadang di hutan. Tapi kini sudah tertolong oleh teknologi: drone. Sudah waktunya PLN membeli banyak drone berkamera infrared.
Jangan-jangan sekarang pun PLN sudah memilikinya hanya mungkin belum merata sampai Sumatera.
Putus kabel tidak seperti putus cinta: hanya dua yang menderita. Putusnya konduktor tegangan tinggi ibarat tekanan darah tinggi: merembet ke mana-mana. Meski yang putus konduktor antara Jambi-Riau yang menderita empat provinsi. Ini antara lain karena tidak imbangnya pasok listrik di Sumatera.
Sumber listrik terbesar di Sumatera adalah dari Sumsel. Anda sudah tahu kenapa: Sumsel kaya batu bara. Sebagian listrik untuk Sumatera Utara-Aceh-Riau dikirim dari Sumsel: lewat transmisi 275 kv. Transmisi ini ibarat jalan tol listrik.
Di zaman Orde Baru ”jalan tol” ini dibangun antara Lampung-Sumbar-Sumut lewat sisi barat Sumatera. Zaman itu Sumatera sisi timur belum berkembang.
Belakangan, wilayah Riau-Jambi berkembang jauh lebih pesat dari sisi barat. Keperluan listriknya meningkat drastis. Maka di suatu masa yang Anda sudah bisa menduga diputuskanlah untuk membangun ”jalan tol listrik” yang lebih besar di sisi timur Sumatera.
Kalau transmisi di sisi barat 275 kv, yang di sisi timur itu 500 kv –bisa mengangkut listrik hampir dua kali lipatnya.
Dengan demikian Sumatera punya dua ”jalan tol”: dua lajur di sisi barat, empat lajur di sisi timur. Dua-duanya sama: dari Lampung sampai Aceh –hanya saja sebagian belum jadi.
Dua “jalan tol” itulah yang harus dihubungkan di bagian tengahnya. Maka dari gardu induk Aur Duri (”tol barat”) dibangunlah transmisi 275 kv ke arah pantai timur, ke gardu induk Garuda Sakti (di jalur ‘tol’ timur). Agar lebih fleksibel. Bisa saling membantu bila terjadi kepadatan arus.
Di jalur itulah, di salah satu sambungan kabelnya, putus.
Akibatnya listrik dari Sumsel yang dikirim ke Sumut lewat Garuda Sakti terputus di Aur Duri. Selama ini perjalanan listrik dari Sumsel ke Aceh itu memang lewat Garuda Sakti – Aur Duri – Payakumbuh – terus ke utara sampai Sumut dan Aceh. Arus listrik itu dibelokkan dulu ke barat karena ”jalan tol” sisi timur belum selesai dibangun sampai Sumut.
Akibatnya tiba-tiba pasok listrik ke Sumut turun drastis. Frekuensi pun berubah mendadak. Itu karena daya pembangkit listrik di utara tidak begitu besar. Tidak seimbang. Terjadilah perbedaan frekuensi. Akibatnya pembangkit-pembangkit di Sumut ”terbanting’ ‘oleh perbedaan frekuensi: jatuh. Mati. Maka mati listriknya pun total.
Di Jawa yang seperti ini tidak akan terjadi. Jumlah pembangkit listrik di ujung timur ‘jalan tol 500 kv’ sudah seimbang dengan jumlah pembangkit listrik di ujung barat ‘jalan tol 500 kv’ Jawa. Yang timur di Paiton, yang barat di Suralaya Banten.
Dalam keadaan kebanting seperti itu yang dilakukan PLN adalah cek dulu kondisi jaringan. Pembangkit tidak boleh dihidupkan sebelum jaringan dinyatakan aman. Itu perlu waktu sekitar dua jam. Setelah jaringan diketahui aman, barulah pembangkit dihidupkan.
Yang paling siap dihidupkan pertama adalah yang genset yang pakai minyak solar. Prosedurnya mudah. Tinggal tekan tombol keluar listrik. Tapi jumlah pelanggan yang bisa tidak banyak.
Lalu pembangkit listrik tenaga air Asahan 1, 2, 3. Juga pembangkit geotermal: Sarulla. Rasanya dalam tujuh jam mereka sudah bisa menyala. Tetap saja belum cukup. Lumayan. Sebagian pelanggan sudah bisa menyala.
Yang memakan waktu paling lama adalah PLTU batu bara. Untuk menghidupkan kembali harus tunggu boilernya dingin dulu. Lalu diadakan pengecekan: akibat mati mendadak Jumat lalu bisa menimbulkan komplikasi.
Setelah dinyatakan aman barulah boiler dipanasi. Untuk bisa kembali menghasilkan listrik perlu 36 jam. Hampir dua hari sejak kematiannya.
Padahal daya dari PLTU ini sangatlah besar. Itulah sebabnya sebagian besar baru kebagian listrik setelah dua hari. Ikan-ikan di akuarium pasti sudah mati. Daging kurban di kulkas busuk –kalau tidak segera disate. Ternak ayam, harusnya punya solar sel. Toh kebutuhannya tidak banyak. Yang belum punya haruslah segera punya.
Black out bisa terjadi di mana-mana. Kapan saja. Pun di Amerika. Listrik boleh pet. Yang penting harus cepat byar. (Dahlan Iskan)

14 hours ago
15











































