Kitab Suci di Tengah Bencana Ekologi

10 hours ago 8

Oleh: Toto Izul Fatah

ADA pertanyaan tentang alam yang tak boleh dijawab secara emosional. Kenapa bencana ekologi semakin parah terjadi justru pada saat manusia sudah beragama dan punya kitab suci?

Sementara, para leluhur kuno yang hidup jauh sebelum agama dan kitab suci lahir, justru sangat mencintai dan menghargai alam.

Ini memang pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur. Mengapa semangat menjaga alam, hidup selaras dengan alam, hutan, sungai, gunung, dan sejenisnya, justru terasa lebih kuat pada masyarakat kuno dulu.

Sebaliknya, mengapa setelah agama-agama besar lahir, kitab suci diturunkan, rumah-rumah ibadah dibangun, alam justru kian rusak, hutan dibabat, sungai diracuni, dan hubungan sosial makin keras, bising, dan penuh permusuhan
.
Apakah ada yang salah dengan agama? Apakah kitab suci gagal? Atau justru manusialah yang tak paham keduanya? Sekali lagi, kedua pertanyaan tersebut tak boleh dijawab dengan emosi, tapi dengan hati yang jernih.

Sebab jika salah menjawab, kita akan jatuh pada dua masalah ekstrem. *Pertama,* menyalahkan agama secara membabi buta, dan *kedua* membela agama secara buta pula sambil menutup mata terhadap kenyataan banyaknya kerusakan ekologis dan sosial yang terjadi.

Lalu, siapa yang salah? Menurut saya, mungkin, ini lebih karena faktor manusia modern yang salah mengubah agama dari jalan kesadaran menjadi alat identitas, alat pembenaran, bahkan alat kekuasaan.

Masyarakat leluhur hidup dekat dengan alam bukan karena mereka lebih “maju” secara teologis, melainkan karena mereka sadar bahwa hidup mereka sepenuhnya bergantung pada alam.

Hutan bukan objek bisnis. Sungai bukan saluran limbah. Gunung bukan cadangan tambang semata. Alam bagi mereka adalah ruang hidup, sumber pangan, penyangga air, penentu musim, bahkan bagian dari tatanan sakral.

Banyak tradisi kuno memandang gejala alam sebagai sesuatu yang suci atau setidaknya harus dihormati. Praktik semacam itu dikenal luas dalam bentuk *animisme,* pemuliaan gejala alam, dan berbagai bentuk *relasi simbolik-spiritual* dengan lingkungan.

Karena itu, hubungan mereka dengan alam dibangun bukan di atas logika eksploitasi, tetapi logika batas dan waras. Ada wilayah yang tak boleh dibuka. Ada pohon yang tak boleh ditebang sembarangan.
Ada mata air yang harus dijaga. Ada musim yang harus dihormati. Ada tata adat yang lahir bukan dari buku teori ekologi, melainkan dari pengalaman hidup bersama alam.

Agama memang membawa wahyu, etika, dan tuntunan moral. Tetapi dalam perjalanan sejarah, agama sering dipeluk tanpa benar-benar dihayati. Ia berhenti sebagai laku batin, lalu berubah menjadi simbol kelompok.

Masalahnya, memang bukan pada kitab suci, melainkan pada pembacaan yang terpotong. Banyak orang tekun membaca ayat tentang kekuasaan manusia atas bumi, tetapi malas membaca amanat tentang tanggung jawab, keadilan, larangan berbuat kerusakan, dan kewajiban menjaga keseimbangan.

Bahkan riset kontemporer menunjukkan bahwa dalam pandangan keagamaan modern pun, banyak pemeluk agama memahami bumi sebagai sesuatu yang sakral. Mereka percaya manusia punya kewajiban ilahiah untuk merawatnya.

Di sinilah akar persoalannya. *Kerusakan ekologis* besar-besaran yang kita saksikan hari ini terutama lahir dari industrialisasi rakus, ekstraksi tanpa batas, pembakaran bahan bakar fosil dan perubahan tata guna lahan.

Degradasi lahan adalah akibat proses yang dipicu manusia. Perubahan penggunaan lahan, misalnya, seringkali menjadi pendorong penting *deforestasi* dan kerusakan ekosistem.

Jadi, kalau hari ini orang rajin beribadah tetapi sungai tetap kotor, gunung tetap dikeruk, laut tetap diracuni, dan tetangga tetap dibenci, itu bukan bukti agama gagal. Itu bukti bahwa agama belum sungguh-sungguh turun ke dalam watak, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Agama berhenti di ritual, tidak menjelma menjadi peradaban etik.

Dengan kata lain, problem kita bukan terlalu banyak agama, tetapi terlalu sedikit penghayatan. Terlalu banyak ayat dibaca, terlalu sedikit makna dijalankan. Terlalu banyak rumah ibadah dibangun, terlalu sedikit kesadaran ekologis ditumbuhkan.

Dulu, para leluhur tidak punya kitab suci seperti yang kita kenal sekarang, tetapi mereka punya kesadaran kosmik. Mereka tahu bahwa manusia bukan pusat semesta, melainkan bagian dari semesta.
Sedangkan manusia modern, meski mengaku beragama, justru sering merasa menjadi penguasa. Alam diturunkan derajatnya menjadi hanya sebagai benda mati.

Mungkin justru di sinilah ironi terbesar peradaban kita. Leluhur yang belum mengenal agama formal ternyata sering lebih santun kepada alam. Sedangkan manusia yang sudah mengantongi kitab suci justru lebih lihai merusak bumi sambil mengutip ayat.
Ini bukan salah wahyu. Ini salah watak manusia yang menjadikan agama hanya sebagai atribut .

Sudah saatnya agama dipulangkan lagi ke ruh asalnya. Yaitu, membentuk manusia yang rendah hati di hadapan Tuhan, lembut kepada sesama, dan penuh hormat kepada alam.(*)

Penulis adalah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA.l dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |