Jejak Kepemimpinan di Antara CO & Methane

3 hours ago 12

Saya pernah mengabdi selaku ASN selama 17 tahun (1998 – 2015) di Sawahlunto.
Tulisan ini untuk mengenang sepuluh tahun wafatnya (seorang mentor ketika beliau masih menjadi atasan, pengganti figur seorang ayah ketika beliau sudah pensiun), Amran Nur, Wali Kota Sawahlunto periode 2003 – 2013 yang berpulang pada tahun 2016.
Dan juga mengingat kembali 19 tahun konservasi Terowongan Tambang Tua Mbah Suro pada tahun 2007.

Terowongan Mbah Suro bukan sekadar lorong batubara di perut bumi tapi sudah menjadi salah satu situs paling fenomenal di Sumatera Barat Khususnya Kota Tua Sawahlunto.
Lorong gelap yang dahulu menyimpan jejak penderitaan, kerja paksa dan sejarah panjang pertambangan.
Terowongan inilah yang ikut mengantar Sawahlunto diakui dunia sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Kisah ini bermula di akhir Desember 2006.
Sore itu, menerima telepon singkat dari ajudan Wali Kota Amran Nur, meminta saya segera menghadap.
Begitu berdiri di hadapannya, tanpa pengantar panjang beliau langsung berkata, “Medi! Awal Februari depan ikut saya ke Australia. Bu Caterini, perwakilan ICOMOS di Indonesia, merekomendasikan agar kita mempelajari konservasi dan pengelolaan bekas tambang kuno di sana yang telah lebih dulu ditetapkan sebagai Warisan Dunia. Sekalian kita menghadiri konferensi ICOMOS.

Tolong cek rute perjalanan darat dari Adelaide ke Burra, lalu ke Broken Hill.
Kita sewa kendaraan di Adelaide. Soal izin ke luar negeri sudah diurus bagian umum dan atasanmu nanti akan saya hubungi untuk meminta persetujuannya.”

Saya terdiam sejenak.
Maklum masih kepala Seksi atau sekarang disebut ‘baru es melon IV’, ASN Gen Z menyebut ‘Umbies”, diajak langsung oleh wali kota ke luar negeri adalah kehormatan yang sulit saya lukiskan. Apalagi sebelumnya beliau memang beberapa kali melibatkan saya dalam delegasi PNS Sawahlunto melakukan magang ke Malaka-Malaysia dalam mempelajari pengelolaan kota heritage dan menyiapkan draft Dossier Sawahlunto untuk UNESCO.

Dua hari setelah itu saya menemui beliau kembali, melaporkan hasil tracking peta perjalanan darat dari Adelaide – Burra dan Broken Hills, saya bilang perjalanan darat cukup jauh, Adelaide ke burra sekitar 350 km dan Burra menuju Broken Hills lebih 450 km, kebetulan ada penerbangan yang menghubungkan kota-kota itu apa tidak sebaiknya kita dengan pesawat saja.
Beliau menjawab, akan banyak pengalaman yang didapat jika lewat darat, kita sewa kendaraan saja dan untuk berhemat tidak perlu pakai driver karena mahal, nanti gantian kamu bersama saya dan suami bu caterini menjadi drivernya.
Apalagi Burra adalah kota penting tempat di tandatanganinya burra charter sebuah piagam pedoman konservasi warisan budaya yang sangat penting dalam praktik konservasi di Australia dan juga berpengaruh secara internasional.

Singkat cerita, kami melakukan perjalanan itu melewati gurun dan kota-kota kecil terpencil serta perkampungan aborign jauh di pedalaman selatan Australia.
Sampai di Burra kami mempelajari site/objek bekas tambang tembaga yang sudah di konservasi menjadi objek wisata, memasuki terowongan-terowongan yang sudah dikonservasi, bertemu dengan pengelola kota untuk menggali informasi bagaimana mereka melakukan penataan, tata kelola dan konservasi objek bekas tambang tersebut.
Kemudian di Broken Hills kami belajar dan mengikuti konfrensi dikota tambang logam yang masih aktif tetapi juga berfungsi sebagai kota wisata tambang.
Industri tambang disini dioperasikan oleh perusahaan raksasa tambang dunia BHP (Broken Hill Proprietary Company).

Beberapa hari disana kami langsung pulang ke Indonesia. Dalam penerbangan pulang tubuh saya benar-benar lelah dan tertidur disepanjang penerbangan.
Namun Amran Nur tidak, beliau menulis, membuat sketsa, membuat catatan, tidak istirahat sama sekali.

Sepulang dari ’belajar’ di Burra dan Broken Hill di Australia, perintah itu tiba.
Singkat, tanpa basa-basi, walikota Amran Nur berkata “Di kelurahan tanah lapang ada sebuah gundukan beton tua, saya merasa itu pintu masuk ke terowongan bawah tanah.
Saya perintahkan kamu buka pintu beton itu.

Saat perintah itu terucap, saya masih berusaha memberi argumen.
Saya sampaikan dengan hati-hati bahwa kemungkinan itu pintu masuk ke terowongan tua tambang batubara bawah tanah, kondisi yang kita pelajari di Australia sangat berbeda dengan yang akan dihadapi.
Tambang logam di Burra dan Broken Hill, sejauh pengetahuan saya hanya menghadapi risiko runtuhan struktur.
Sedangkan tambang batubara di daerah kita menyimpan ancaman yang jauh lebih kompleks dan mematikan.
Selain bahaya runtuhan akan berhadapan dengan gas karbon monoksida (CO) yang sangat beracun, membunuh tanpa bau dan tanpa peringatan serta gas metana jika pada konsentrasi tertentu dapat memicu ledakan dahsyat.
Risiko ini bukan hanya mengancam para pekerja, tetapi juga seluruh kota yang berdiri tepat di atasnya.

Walikota Amran Nur menjawab argumen saya, “Kamu sarjana pertambangan, pasti paham mengatasinya dan dalam satu bulan kamu cari referensi untuk mengatasi masalah tersebut”.

Dalam rentang waktu satu bulan tersebut kebetulan saya bertemu dengan dua orang pakar tambang JICA-Jepang (Sewo dan Kakita) yang sedang membantu Kementrian ESDM mempersiapkan pembentukan lembaga Diklat Tambang Bawah Tanah di Sawahlunto.
Kepada mereka berdua saya berkonsultasi mengenai perintah yang saya terima dan apa yang harus dilakukan.
Dua pakar ini bersedia mendampingi saya untuk menemui kembali Walikota Amran Nur.
Lalu diadakan rapat melibatkan beberapa praktisi dan pakar, perdebatan pun tak terhindarkan.
Dua pakar jepang ini menyatakan, di Jepang membuka kembali terowongan tambang tua adalah tindakan ilegal. Terlalu berbahaya. Terlalu berisiko.

Amran Nur mendengarkan dengan tenang, penuh perhatian. Lalu ia menjawab bukan dengan spekulasi melainkan dengan keyakinan dari pengamatannya.
“Di Indonesia,” ujarnya perlahan, “tidak ada aturan yang melarang.”
Dia lanjut menjelaskan bahwa selama berbulan-bulan saya sendiri mengamati mulut terowongan itu. Setiap hujan turun, saya kesana dan melihat langsung air selalu merembes dari bagian bawah beton penutup. Itu pertanda penting, terowongan telah lama terendam air. Dan bila terendam maka gas-gas berbahaya itu hampir pasti tidak bisa keluar dari celah batubara karena wadahnya penuh oleh air.

Saya ragu bukan pada logikanya, tetapi pada satu pertanyaan mungkinkah seorang wali kota di tengah kesibukan semua urusannya masih ada waktu mencermati detail sedemikian rinci? Jika beliau keliru, taruhannya bukan hanya nyawa pekerja melainkan keselamatan seluruh kota.

Namun Amran Nur tidak bergeming.
Dengan suara yang tak memberi saya celah bantahan beliau memberikan perintah kepada saya; ‘You’ (sebuah panggilan yang biasanya beliau pakai jika dalam kondisi amarah. Dan kalimat you itu ditujukan ke saya), besok pagi semua harus disiapkan, Peralatan, pekerja, siapkan juga mobil Damkar. Jika tidak saya beri teguran tertulis”.
Lalu dia melanjutkan ucapannya, “dan saya akan berdiri di depan terowongan itu. Jika meledak, jika beracun, saya yang pertama menerimanya”. Semua hening…

Melihat Amran Nur mempunyai argumen yang kuat, dua pakar JICA-Jepang ini (Sewo dan Kakita) akhirnya berkata, ok kalau begitu, ijinkan saya mendampingi dan membantu sebisa ilmu saya dalam pekerjaan ini.

Terowongan itu telah tertutup lebih dari seratus tahun.
Ditutup paksa oleh pemerintah kolonial.
Dibiarkan gelap dan dilupakan, bersemayam tepat di bawah jantung Kota Sawahlunto, menyimpan cerita kepedihan pekerja paksa yang disebut orang rantai, di bawah rumah-rumah warga yang hidup tanpa menyadari apa yang tersembunyi di bawah kaki mereka.

Hari membuka beton penutup terowongan itu tiba.
Namun keputusan genting harus diambil. Dari pintu beton penutup bagian mana yang harus dibuka terlebih dahulu, dari sisi bawah atau dari sisi atas.
Jika dari bawah, karbon monoksida yang lebih berat dari udara akan mengalir keluar dan dapat mematikan siapa pun di sekitarnya.
Jika dari atas, metana yang lebih ringan dari udara bisa menyembur kemudian meledak dan menghancurkan permukiman padat di atasnya.
Dipilihlah sisi bawah, pilihan pahit di antara dua kemungkinan petaka.
Amran Nur berdiri persis di depan mulut terowongan. Diam. Tegak. Menunggu.
Saat beton pertama pecah, air dan lumpur menyembur deras.
Tak ada gas,
Tak ada api,
Tak ada ledakan.
Pengamatannya terbukti benar. Terowongan itu penuh air dan lumpur. Ancaman gas nyaris tak ada.

Namun pekerjaan belum selesai.
Justru di sanalah ujian panjang dimulai.
Proses pemompaan air dan lumpur dari dalam terowongan, meski menggunakan pompa berkapasitas besar, memakan waktu lebih dari empat bulan.
Hari demi hari, air dan lumpur disedot keluar seolah terowongan itu enggan melepaskan rahasia yang telah disimpannya selama lebih dari satu abad.

Setelah level pertama lorong horizantal terowongan mengering, pekerjaan berlanjut pada tahap yang tak kalah berat, membersihkan lorong, memasang jaringan suplay udara, memasang pompa dengan sensor serta menambahkan penerangan dan penyangga tambahan agar terowongan aman juga layak menjadi objek wisata bawah tanah.
Masalahnya bagaimana memilih pekerja.
Risikonya terlalu besar untuk sembarang orang dan juga tidak banyak yang mau bekerja dengan kondisi berbahaya seperti itu.

Amran Nur kembali menunjukkan cara berpikirnya yang tak lazim, sering disebut “Out Of The Box”, tapi menurut saya “Without the Box”.
“Kamu rekrut para pekerja tambang liar,” katanya, “yang tambangnya sudah kamu tutup dan sekarang menganggur.”
Para penambang liar itu meski bekerja di luar sistem, justru memiliki keunggulan praktik.
Mereka terbiasa bekerja dalam keterbatasan peralatan, mengandalkan naluri, pengalaman dan keberanian.
Utamakan yang berdomisili di sekitar kelurahan tanah lapang, barangkali diantara mereka ada leluhurnya yang menjadi pekerja paksa di terowongan tersebut, tentu mereka punya hubungan batin.

Arahan itu terbukti tepat. Mereka menjadi tulang punggung pekerjaan konservasi.
Saya masih mengingat beberapa nama-nama para pekerja yang membantu saya saat itu, ada almarhum Pak Win, Kang Juned, Kutut, Kiplik, Om Breta, Roni, Gepeng, Bambang, If Kitiang dan beberapa lagi saya lupa.
Saya juga mengajak seorang sahabat bernama “Bonjoi” dia merupakan pegawai di Pemadam Kebakaran yang paham rescue dan sebelum menjadi pegawai juga beraktivitas sebagai tambang liar.
Saya juga di dampingi dua rekan kerja penuh loyalitas yang sudah seperti Saudara yaitu almarhum Ari Bawa seorang sarjana pertambangan seperti saya dan Magdarisman.

Lorong-lorong di dalam terowongan itu terbentang sangat panjang dan bertingkat.
Lorong horizontal pada level pertama diperkirakan membelah pusat Kota Tua Sawahlunto, memanjang menuju arah Masjid Agung Nurul Islam, mesjid itu dimasa kolonial merupakan bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap.
Sekitar 30 meter di bawah lorong pertama, terdapat lorong horizontal level kedua.
Dari pola yang terlihat, saya memperkirakan bahwa setiap penurunan sekitar 30 meter ke bawah kemungkinan terdapat lorong horizontal berikutnya, membentuk sistem terowongan bertingkat di bawah tanah.
Berbeda dengan lorong horizontal, lorong vertikal memiliki kedalaman yang jauh lebih ekstrem.
Perkiraan saya, kedalamannya mungkin bisa beberapa kilo meter. Untuk mengujinya, saya menyambungkan puluhan pipa dan memasukkannya ke dalam air yang menggenangi lorong vertikal tersebut. Namun pipa-pipa itu seolah “ditelan” ke dalam, menandakan bahwa lorong tersebut masih sangat panjang dan dalam.

Dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, biaya, dan keberlanjutan pengelolaan, saya akhirnya memutuskan untuk melakukan konservasi terbatas.
Lorong horizontal level pertama ditetapkan sebagai area utama yang dapat dimasuki wisatawan umum.
Sementara itu, lorong horizontal level kedua dikeringkan hanya sepanjang beberapa ratus meter, khusus bagi wisatawan dengan minat petualangan.
Adapun lorong vertikal yang berada di bawah lorong horizontal level kedua sengaja dibiarkan tetap terisi air dan dipasang pompa dilengkapi sensor untuk mengatur volume air dalam lorong vertikal tersebut. Air tersebut berfungsi sebagai pengaman alami untuk menahan gas-gas berbahaya agar tidak keluar melalui celah-celah lapisan batubara.

Rencana ini disetujui oleh Wali Kota Amran Nur.
Pertimbangan saya dinilai cukup kuat, jika terowongan dibuka terlalu panjang, biaya operasional, terutama untuk suplai udara dan penerangan akan sangat besar, sementara belum tentu wisatawan memiliki keberanian untuk menjelajah sejauh itu.

Banyak peristiwa aneh serta lucu yang berkesan bagi saya saat proses pekerjaan tersebut.
Tentang para pekerja saat membersihkan terowongan dari lumpur menemukan barang-barang dan peralatan yang digunakan para pekerja jaman lampau.
Tanpa setahu saya barang-barang itu mereka bawa pulang, tapi kemudian mereka datang lagi menyerahkan kepada saya karena barang barang itu seperti memiliki roh dan mengusik rumah mereka (sekarang barang-barang itu di pajang di bangunan info box di depan terowongan).

Kami juga menemukan potongan tulang belulang yang kemungkinan potongan tulang manusia yang sudah mirip fosil dan kemudian dimakamkan kembali.

Dan ketika saya kebingungan saat pembersihan sampai dititik sebuah persimpangan, arah terowongan mana yang akan diikuti, saya tidak punya peta terowongan tersebut.
Saat menelusuri arsip-arsip belanda di Kantor Tambang PT. BA-UPO juga tidak ditemukan informasi aktivitas yang terjadi dilokasi ini.
Karena kebingungan pekerjaan akhirnya terhenti beberapa hari.
Kemudian seorang pekerja memberi usulan, bagaimana kalau kita mainkan “kuda kepang” di depan terowongan ini, siapa tahu nanti ada petunjuk (dalam tanda kutip).
Akhirnya kuda kepang dimainkan, (saya tidak menceritakan lebih lanjut karena akan menjadi sirik).

Ada juga ketika seorang anak kecil yang dibawa oleh orang tuanya ke sana, Di depan mulut terowongan dia berbicara sendiri dan ketika ditanya dia sedang bicara dengan kakek kakek yang sangat baik.

Kemudian ada juga seorang pekerja yang bermimpi, dalam mimpinya ada sesorang tua yang marah sekali di dalam terowongan tersebut dan berpesan, pekerja bernama roni harus minta maaf karena mengencingi terowongan tersebut saat bekerja.

Saat proses pekerjaan terowongan itu, Walikota Amran Nur mendengar cerita dari para tetua yang tinggal di Sawahlunto, mereka mendengar kisah dari para leluhur mereka, bahwa tokoh yang disegani di dalam terowongan tersebut bernama Samin Suro Sentiko, merupakan tokoh perlawanan kepada Belanda di wilayah Blora, Pati dan sekitarnya, kemudian ditangkap dan dibuang belanda menjadi pekerja paksa di Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto.
Akhirnya Walikota Amran Nur mencetuskan nama terowongan tersebut menjadi terowongan Mbah Suro.

Dalam upaya konservasi terowongan tua tersebut, keterbatasan alat dan anggaran kerap menghadang. Namun visi tak pernah padam. Setiap laporan saya kepada Walikota Amran Nur mengenai kebutuhan peralatan dijawab dengan tindakan. Seringkali Amran Nur mencari, bahkan membeli sendiri peralatan teknis dengan uang pribadinya, tanpa sorotan, tanpa catatan resmi.

Terowongan selesai di konservasi dan kemudian diresmikan.
Bagi saya, inilah tugas paling berat sepanjang 27 tahun pengabdian sebagai PNS.
Saat ini Terowongan Tua Mbah Suro berhenti menjadi lorong gelap sudah menjelma menjadi musium untuk ruang ingatan, saksi penderitaan para pekerja paksa pada masa kolonial. Sebuah tapak sejarah yang akhirnya ikut mengantarkan Sawahlunto diakui dunia sebagai Warisan Dunia.

Saya belajar proses kepemimpinan:
pemimpin sejati bukan mereka yang memberi perintah dari balik meja, tapi mereka yang berdiri di barisan paling depan rela menanggung risiko pertama, demi orang-orang yang dipimpin.
“Al-Fātiḥah untuk beliau, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat, mengampuni segala khilaf dan menempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.”

*Penulis: Medi Iswandi (Kepala BPSDM Sumatera Barat)

Note:
Saya masih menyimpan banyak foto, video, RAB dan dokumen lainnya saat proses konservasi ini dilaksanakan

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |