Dari Warung ke Sawah: KUR Menggerakkan UMKM Cibadak

4 hours ago 2
Kepala Cabang BRI Cibadak, Eki Dyata Fredi Setiawan saat berbincang dengan salah satu karyawan BRI. (foto : BRI Cibadak)

SUKABUMI — Di Sukabumi, denyut ekonomi rakyat berputar dari pasar tradisional, sawah, hingga warung kecil yang menjadi pusat kehidupan sehari-hari. Di balik geliat itu, Kredit Usaha Rakyat (KUR) hadir sebagai bahan bakar pertumbuhan. Dalam dua tahun terakhir, BRI Cabang Cibadak menyalurkan Rp717 miliar kepada lebih dari 21 ribu debitur hingga Desember 2025. Angka ini menempatkan Cibadak sebagai salah satu kontributor utama penyaluran KUR sektor mikro dan pertanian di Jawa Barat.

Kepala Cabang BRI Cibadak, Eki Dyata Fredi Setiawan, menegaskan bahwa mayoritas penyaluran KUR diarahkan ke sektor produktif, terutama pertanian dan perdagangan. “Kami ingin memastikan kredit ini benar-benar membantu usaha naik kelas, bukan sekadar pinjaman konsumtif,” ujarnya.

Sektor perdagangan kecil, pertanian, peternakan, perikanan, dan jasa mikro menjadi penerima terbesar. BRI menerapkan prinsip selective growth, hanya menyalurkan kredit kepada usaha yang sudah berjalan minimal enam bulan dan memiliki kelengkapan administrasi dasar. Proses seleksi dilakukan melalui survei usaha dan analisis kemampuan bayar, dengan pendampingan langsung dari mantri dan petugas lapangan.

Pendampingan menjadi kunci agar KUR tidak berhenti sebagai angka di laporan. BRI aktif mengedukasi pelaku UMKM tentang pencatatan usaha sederhana, penggunaan pembayaran digital, dan pengelolaan modal. Monitoring rutin dilakukan agar cicilan tetap lancar dan usaha berkelanjutan. “Kami ingin memastikan KUR bukan hanya memberi modal, tapi juga membentuk kebiasaan keuangan yang sehat,” tambah Eki.

Kisah sukses banyak ditemukan di Cibadak. Seorang petani mampu memperluas lahan garapan dan meningkatkan produksi setelah memperoleh KUR. Warung sembako kecil bisa menambah stok barang dan memperluas jaringan pemasok, omzet pun melonjak. Ada pula pengusaha makanan rumahan yang kini mempekerjakan tambahan tenaga kerja berkat modal KUR. Cerita-cerita ini menunjukkan bagaimana KUR nyata mengubah kehidupan masyarakat.

Meski kontribusinya besar, penyaluran KUR menghadapi tantangan. Rendahnya literasi keuangan, administrasi usaha yang belum rapi, keterbatasan agunan, serta risiko usaha akibat cuaca di sektor pertanian dan perikanan menjadi hambatan nyata. Untuk mengatasinya, BRI gencar melakukan sosialisasi, edukasi digital, dan monitoring rutin.

Ke depan, target penyaluran KUR di Cibadak mengikuti potensi regional Jawa Barat, dengan fokus pada sektor produktif. Secara nasional, pemerintah menetapkan plafon KUR 2026 sebesar Rp308,41 triliun, dengan BRI sebagai penyalur terbesar, mengelola sekitar Rp180 triliun. Hingga awal 2026, penyaluran KUR BRI secara nasional telah mencapai Rp31,42 triliun kepada sekitar 643 ribu debitur UMKM.

Kontribusi KUR terhadap ekonomi lokal sangat nyata: modal kerja yang menggerakkan produksi, membuka lapangan kerja baru, dan menjaga perputaran ekonomi desa maupun kota. Sektor perdagangan dan pertanian menjadi penggerak utama, dengan KUR sebagai bahan bakar pertumbuhan.

Sementara itu, Di balik angka penyaluran KUR yang mencapai ratusan miliar rupiah, ada wajah-wajah nyata yang merasakan dampaknya. Salah satunya adalah Ade Mulyana, seorang pelaku usaha mikro di Cibadak. Ade mengisahkan bagaimana keterbatasan modal sempat membuat usahanya berjalan terseok-seok.

“Dulu saya hanya bisa berjualan dengan stok terbatas. Kadang permintaan pelanggan tidak bisa saya penuhi karena modal tidak cukup,” ujarnya.

Segalanya berubah ketika ia mendapatkan akses KUR dari BRI Cabang Cibadak. Dengan tambahan modal, Ade mampu memperluas usaha, menambah stok barang, dan bahkan mempekerjakan tenaga tambahan. “Omzet meningkat, usaha lebih stabil, dan saya bisa merencanakan pengembangan jangka panjang. KUR bukan hanya pinjaman, tapi dorongan semangat untuk naik kelas,” katanya penuh keyakinan.

Kisah Ade Mulyana menjadi bukti bahwa KUR benar-benar hadir sebagai modal rakyat yang menggerakkan ekonomi lokal. Dari warung kecil hingga usaha pertanian, kredit produktif ini membuka jalan bagi UMKM untuk tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga perputaran ekonomi di desa maupun kota.(*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |