Langgam.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), akan memanggil kepala sekolah (kepsek) dan wali kelas SD Negeri 33 Rawang pada Senin (27/7/2026). Langkah itu dilakukan untuk mendalami dugaan kasus perundungan yang dikaitkan dengan meninggalnya seorang siswi kelas 3 berinisial NH (10).
Kepala Disdikbud Kota Padang, Yopi Krislova mengatakan, pihaknya hingga kini masih mengumpulkan informasi terkait peristiwa tersebut. Menurutnya, Disdikbud belum memperoleh kronologi pasti mengenai dugaan perundungan yang disampaikan keluarga korban.
Berdasarkan hasil konfirmasi awal kepada pihak sekolah, kata Yopi, belum ditemukan informasi yang menguatkan adanya tindakan bullying terhadap korban.
“Kami belum mendapatkan kronologi pastinya. Namun, ketika dikonfirmasi ke sekolah, pihak sekolah menyampaikan bahwa anak tersebut tidak mengalami bullying,” katanya kepada Langgam.id, Sabtu (25/7/2026).
Meski demikian, Disdikbud memastikan akan terus melakukan pendalaman agar seluruh fakta dalam peristiwa tersebut dapat diketahui secara utuh.
Yopi menyebut, apabila keluarga korban meyakini NH menjadi korban perundungan, proses visum dapat dilakukan sebagai bagian dari pembuktian.
“Kalau memang orang tua merasa anaknya menjadi korban bullying, tentu dipersilakan untuk dilakukan visum,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, berdasarkan keterangan pihak sekolah, NH dikenal sebagai siswi yang berperilaku baik selama mengikuti kegiatan belajar.
Selain itu, Disdikbud Padang masih membuka kemungkinan adanya informasi lain yang perlu digali, termasuk apakah terdapat persoalan di luar lingkungan sekolah.
“Pengakuan sekolah, anak ini tidak dibully dan dikenal sebagai anak yang baik. Mungkin ada persoalan keluarga, namun itu yang belum kami peroleh informasi pastinya,” katanya.
Yopi menegaskan, penyebab meninggalnya NH belum dapat disimpulkan sebelum seluruh fakta dan kronologi terungkap. Saat ini, dugaan perundungan masih berasal dari keterangan keluarga korban, sementara informasi yang diterima Disdikbud menyebut korban diduga sedang sakit.
“Harus jelas terlebih dahulu kronologinya. Dugaan bahwa anak ini dibully sejauh ini merupakan klaim dari pihak keluarga. Sementara informasi yang kami terima saat ini, anak tersebut diduga sedang sakit,” ucapnya.
“Kami akan memanggil kepala sekolah dan wali kelas untuk meminta penjelasan serta kronologi dari pihak sekolah agar persoalan ini dapat diketahui secara utuh,” tuturnya lagi.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswi kelas 3 SD Negeri 33 Rawang di Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar), meninggal. Korban berinisial NH (10) diduga korban perundangan teman di sekolah.
Korban NH meninggal dunia setelah kondisi kesehatannya menurun sepulang sekolah, Kamis (23/7/2026). Hal ini dinyatakan langsung oleh orang tua korban, Wahid Al Amin.
“Setelah pulang sekolah, anak kami terlihat murung dan seperti ketakutan. Sore harinya kondisinya semakin berbeda. Kami sempat memberikan obat, tetapi keadaannya justru semakin memburuk,” ujarnya kepada Langgam.id, Sabtu (25/7/2026).
Keesokan harinya, kata sang ayah, putrinya tidak diizinkan masuk sekolah karena mengeluhkan sakit di bagian pinggang. Meski telah beristirahat di rumah, kondisi kesehatannya terus menurun.
“Malam harinya anak kami semakin parah. Pada hari Rabu, demamnya semakin tinggi dan sakit di bagian pinggang bertambah berat hingga sulit digerakkan,” katanya.
Keluarga sempat berencana membawa NH ke rumah sakit. Namun, karena sang anak terus mengeluhkan rasa sakit saat hendak dipindahkan, keberangkatan sempat ditunda.
Sampai akhirnya mendapatkan penanganan medis, pihak rumah sakit menyatakan tidak menemukan luka akibat benturan pada bagian luar tubuh. Meski demikian, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya cedera di bagian dalam.
“Dari hasil pemeriksaan menunjukkan adanya cedera di bagian dalam berupa pergeseran tulang pada area pinggang,” ungkapnya.
Wahid menduga cedera tersebut terjadi akibat benturan keras yang dialami anaknya saat berada di sekolah. “Kemungkinan anak kami didorong oleh temannya hingga pinggangnya terbentur ke lantai atau beton,” ujarnya.
Selain itu, Wahid menyebut dugaan perundungan terhadap putrinya bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, NH diduga telah beberapa kali mengalami tindakan serupa sejak duduk di bangku kelas 1 hingga kelas 3 dengan pelaku yang sama. (ICA)

4 hours ago
4

















































