SMPN 1 Sukalarang Cegah Narkoba, Kekerasan dan Perundungan

9 hours ago 5
 BNN dan DP3A Kabupaten Sukabumi bersama guru dan pelajar SMPN 1 Sukalarang usai sosialisasi pencegahan narkoba dan kenakalan remaja, Selasa (22/9/2026).(dok/Ist)

SUKABUMI – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan bebas narkoba terus diperkuat. Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi menggelar sosialisasi pencegahan narkoba, kekerasan, perundungan, pendidikan seks, hingga kenakalan remaja di SMPN 1 Sukalarang, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut menyasar sekitar 120 pelajar dari kelas VII hingga IX. Peserta berasal dari berbagai unsur siswa, mulai dari OSIS, ekstrakurikuler hingga pelajar yang dinilai membutuhkan pendalaman edukasi mengenai pencegahan berbagai perilaku berisiko.

Tak hanya memberikan pemahaman, BNN Kabupaten Sukabumi juga melakukan deteksi dini melalui tes urine terhadap sejumlah pelajar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya preventif untuk mencegah penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan remaja.

Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNN Kabupaten Sukabumi, Muhammad Febriansyah, mengatakan edukasi merupakan bagian penting dari program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

“Yang pertama adalah pencegahan. Kita harus mencegah masyarakat, khususnya anak-anak, supaya tidak menggunakan narkoba di kemudian hari. Salah satunya melalui sosialisasi, informasi dan edukasi seperti ini,” ujarnya.

Menurut Febri panggilan akrab Febriansyah, tes urine juga menjadi salah satu instrumen deteksi dini. Namun, apabila terdapat hasil yang menunjukkan indikasi positif, BNN tidak serta-merta menyimpulkan siswa menggunakan narkotika.
Pihaknya akan melakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan zat yang dikonsumsi, termasuk kemungkinan penggunaan obat-obatan tertentu.

“Kalau ditemukan positif, langkah pertama tentu kita melakukan investigasi lebih mendalam. Kita pastikan dulu jenis apa yang dikonsumsi, apakah narkotika, obat-obatan atau zat lainnya,” jelasnya.

Febri juga menambahkan, perhatian terhadap peredaran obat-obatan yang mudah dijangkau remaja juga perlu ditingkatkan. Menurutnya, edukasi kepada siswa harus dilakukan secara berkelanjutan agar mereka memahami risiko serta tidak mudah terpengaruh lingkungan.

Jika ditemukan siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, BNN akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan orang tua. Pendekatan yang dilakukan, kata dia, mengedepankan pendampingan secara humanis dan personal.

“Kalau nantinya ditemukan ada yang positif, kami juga melakukan konfirmasi kepada sekolah dan orang tua, sehingga ada pendampingan. Pendekatannya dilakukan secara humanis dan personal,” katanya.

Ia pun mengingatkan sekolah agar tidak lengah terhadap perkembangan jenis narkoba maupun obat-obatan yang dikenal oleh kalangan remaja. Pengawasan dan komunikasi antara guru, siswa serta orang tua dinilai menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Kesiswaan SMPN 1 Sukalarang, Mulyana, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi yang diberikan memberikan bekal pengetahuan kepada siswa mengenai bahaya narkoba sekaligus pencegahan kekerasan dan kekerasan seksual.

“Kegiatannya sangat positif dan memberikan dampak. Anak-anak mempunyai dasar dan pengetahuan tentang kekerasan seksual serta bagaimana terbebas dari narkoba,” ungkapnya.

Mulyana berharap kerja sama dengan BNN dan DP3A dapat terus berlanjut. Bahkan, pihak sekolah berencana mendorong pembentukan duta narkoba di lingkungan sekolah.
Keberadaan duta tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak edukasi antarsiswa, sehingga pesan-pesan pencegahan tetap berjalan meskipun tidak selalu didampingi langsung oleh BNN maupun DP3A.

“Harapannya sekolah menjadi sekolah yang nyaman, ramah dan jauh dari kekerasan,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Sukalarang Achmad Komar menilai persoalan kenakalan remaja merupakan masalah kompleks yang tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja.
Menurutnya, berbagai faktor yang memengaruhi perilaku remaja saling berkaitan. Karena itu, diperlukan pendekatan kolaboratif antara sekolah, pemerintah, orang tua dan masyarakat.

“Pencegahan kenakalan remaja adalah masalah kompleks yang faktor penyebabnya saling berkaitan, sehingga tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Pendekatan kolaboratif atau lintas instansi penting dilakukan agar penanganannya lebih holistik,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Humas SMPN 1 Sukalarang, Tedi Setiadi. Ia mengatakan sosialisasi tersebut penting agar siswa dan masyarakat mengetahui berbagai langkah yang telah dilakukan sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.

“Sekolah melakukan berbagai upaya pencegahan, tetapi tetap memerlukan kolaborasi masyarakat. Pengaruh lingkungan sangat kuat terhadap perilaku siswa,” katanya.

Ia memastikan seluruh warga sekolah siap bersama-sama membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

“Alhamdulillah, kami semua, para guru, murid dan warga sekolah siap menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman,” pungkasnya.(wdy)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |