Riset UNAND: Strategi Petani Sumbar dan Sulsel Hadapi Perubahan Iklim Berbeda

8 hours ago 10

Langgam.id – Perubahan iklim semakin nyata dirasakan petani dan mulai memengaruhi sistem pertanian di berbagai daerah. Namun, cara petani menghadapi perubahan tersebut tidak bisa disamaratakan karena setiap wilayah memiliki karakteristik lingkungan dan tingkat kerentanan yang berbeda.

Hal itu terungkap dalam penelitian berjudul “Towards Climate-Resilient Farming Systems: Evaluating Vulnerability and Adaptation Options for Agriculture in West and East Indonesia” yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah, M.Sc. dari Universitas Andalas (UNAND).

Penelitian tersebut melibatkan Yuerlita, Ph.D dari UNAND, Dr. Sugeng Nugroho dari GWA Koto Tabang, serta Dr. Raza Ullah dan Dr. Malik Muhammad Shafi dari University of Agriculture Faisalabad dan University of Agriculture Peshawar, Pakistan.

Riset yang menjadi bagian dari Program International Research Network-EQUITY World Class University (WCU) itu membandingkan kondisi petani padi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Kedua wilayah dipilih karena memiliki karakteristik agroklimat yang berbeda. Sumatera Barat berada di wilayah barat Indonesia dengan kondisi yang relatif lebih basah, sedangkan Sulawesi Selatan cenderung lebih kering.

Prof. Rudi mengatakan, penelitian menunjukkan perubahan iklim telah menjadi persoalan nyata bagi sektor pertanian. Petani di kedua daerah merasakan perubahan variabilitas dan pola curah hujan, suhu, kekeringan, banjir hingga ketersediaan air.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi yang dilakukan juga harus berbasis pada kondisi lokal,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).

Di Sumatera Barat, sebanyak 96,2 persen petani responden mengaku merasakan perubahan variabilitas curah hujan. Sebanyak 95,7 persen merasakan perubahan suhu, 88 persen merasakan perubahan pola curah hujan, sementara 77 persen menghadapi persoalan kekurangan air.

Sementara di Sulawesi Selatan, persoalan banjir lebih banyak dirasakan petani. Sebanyak 58,1 persen responden melaporkan mengalami banjir, jauh lebih tinggi dibandingkan Sumatera Barat yang berada pada angka 27,3 persen.

Perbedaan kondisi tersebut turut memengaruhi strategi adaptasi yang dipilih petani.

Petani di Sumatera Barat lebih banyak mengandalkan strategi agronomis dan pengelolaan tanah. Diversifikasi tanaman diterapkan 25,4 persen responden, rotasi tanaman 23,9 persen, dan penggunaan mulsa untuk konservasi tanah 20,6 persen.

Berbeda dengan Sumatera Barat, petani di Sulawesi Selatan lebih banyak menggunakan pendekatan teknologi dan varietas tanaman. Sebanyak 37,6 persen responden menggunakan varietas tahan iklim, 27,1 persen memilih varietas berumur pendek, 26,7 persen melakukan diversifikasi tanaman, dan 26,2 persen menerapkan agroforestri.

Menurut Prof. Rudi, perbedaan tersebut menunjukkan kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim sangat dipengaruhi kondisi lingkungan, ketersediaan air, sumber daya, serta karakteristik sistem pertanian di masing-masing daerah.

Karena itu, kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian perlu disusun berdasarkan karakteristik wilayah, bukan menggunakan pendekatan yang seragam.

Penguatan layanan penyuluhan pertanian, pengelolaan sumber daya air, serta pengembangan teknologi pertanian cerdas iklim atau climate-smart agriculture menjadi sejumlah langkah yang dinilai perlu diperkuat.

“Ketahanan pangan ke depan sangat bergantung pada kemampuan kita membantu petani beradaptasi. Karena itu, hasil riset harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang dapat memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim,” katanya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method melalui survei rumah tangga, wawancara dengan informan kunci, dan observasi lapangan. Data primer dikumpulkan dari petani padi di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan untuk mendapatkan gambaran mengenai kerentanan serta strategi adaptasi pada dua kondisi agroklimat yang berbeda.

UNAND berharap hasil penelitian tersebut tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan pertanian berbasis bukti.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan dan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |