Mitos Jam Gadang Dibangun dengan Putih Telur, Ini Penjelasan Direksi PT Semen Padang

12 hours ago 11

Langgam.id — Cerita bahwa Jam Gadang dibangun menggunakan putih telur sebagai bahan perekat telah lama menjadi bagian dari folklore yang hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat. Kisah itu bahkan kerap disampaikan kepada wisatawan yang berkunjung ke ikon Kota Bukittinggi tersebut.

Namun, di balik cerita yang diwariskan turun-temurun itu, sejumlah penelitian justru menunjukkan fakta berbeda. Bangunan yang kini memasuki usia satu abad tersebut ternyata dibangun menggunakan teknologi beton bertulang yang tergolong maju pada masanya.

Fakta tersebut disampaikan Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z. Lubis, dalam Seminar Internasional bertajuk Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia–Belanda melalui Jembatan Persahabatan Bukittinggi–Amsterdam yang digelar dalam rangka peringatan 100 Tahun Jam Gadang di Bung Hatta Convention Hall, Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026) lalu.

Menurut Iskandar, perhatian terhadap Jam Gadang seharusnya tidak hanya berhenti pada cerita penggunaan putih telur atau anggapan bahwa menara jam itu merupakan kembaran Big Ben di London. Yang lebih menarik, kata dia, adalah kemampuan bangunan tersebut bertahan hampir satu abad di kawasan yang berada pada jalur patahan aktif dan kerap diguncang gempa bumi.

“Kehebatan Jam Gadang bukan pada mitos putih telur, bukan pula karena disebut kembaran Big Ben. Kehebatan sesungguhnya adalah kemampuannya bertahan 100 tahun di kawasan yang sangat aktif secara seismik. Itu merupakan bukti kualitas desain, material, dan konstruksi yang luar biasa,” ujar Iskandar, dalam keterangannya, dikutip Selasa (23/6/2026).

Ia merujuk pada penelitian berjudul The Construction and Structural Reliability of Jam Gadang yang dilakukan Khadavi dan Yulcherlina dari Universitas Bung Hatta dan dipublikasikan dalam Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil pada 2018.

Penelitian tersebut dilakukan setelah gempa besar Sumatera pada 2007 dan 2009. Saat sejumlah bangunan tua di sekitar Jam Gadang mengalami kerusakan berat, menara bersejarah itu tetap berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan struktural yang signifikan.

Hasil investigasi menunjukkan struktur utama Jam Gadang menggunakan sistem beton bertulang (reinforced concrete) yang dilengkapi tulangan baja pada kolom, balok, dan pelat lantai.

Tidak hanya itu, hasil pengujian memperlihatkan kuat tekan beton mencapai sedikitnya 25 megapascal (MPa), angka yang bahkan masih memenuhi standar bangunan struktural modern saat ini.

“Kalau dikonversikan, kekuatan 25 MPa itu luar biasa untuk ukuran tahun 1926. Artinya, teknologi konstruksi yang digunakan saat itu sudah sangat maju,” kata Iskandar.

Menurut dia, temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Sumatera Barat telah mengenal dan memanfaatkan teknologi konstruksi modern sejak awal abad ke-20.

Iskandar menilai penggunaan beton bertulang dalam pembangunan Jam Gadang juga sangat mungkin didukung keberadaan industri semen yang telah berkembang di Sumatera Barat pada masa itu. PT Semen Padang sendiri telah berdiri sejak 1910 melalui pembangunan pabrik semen pertama di Indarung, Kota Padang.

“Tahun 1910 di Indarung sudah berdiri pabrik semen, kemudian tahun 1926 Jam Gadang dibangun. Sangat logis apabila teknologi beton bertulang telah digunakan. Namun, tentu untuk memastikan keterkaitan penggunaan semen tersebut masih diperlukan kajian sejarah yang lebih mendalam,” ujarnya.

Selain menepis mitos penggunaan putih telur, Iskandar juga meluruskan anggapan yang selama ini menyebut Jam Gadang sebagai kembaran Big Ben.

Menurut dia, berdasarkan berbagai referensi sejarah, mesin Jam Gadang diproduksi oleh Benhard Vortmann di Recklinghausen, Jerman. Sementara Big Ben menggunakan mekanisme yang dibuat oleh Dent & Co. di London, Inggris.

“Jadi, sebenarnya kedua jam tersebut dibuat oleh perusahaan yang berbeda. Karena itu, penting bagi kita untuk menyampaikan sejarah berdasarkan fakta agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa penulisan angka Romawi IIII pada salah satu sisi jam bukan merupakan kekeliruan ataupun keunikan yang hanya dimiliki Jam Gadang. Penulisan tersebut lazim ditemukan pada berbagai menara jam klasik di Eropa sebagai bagian dari tradisi estetika dan keseimbangan visual.

Penelitian yang dikutip Iskandar menyimpulkan bahwa Jam Gadang masih sangat aman secara struktural. Tidak ditemukan kerusakan signifikan pada elemen utama bangunan maupun pondasi setelah gempa besar yang mengguncang Sumatera Barat.

Karena itu, fokus konservasi lebih diarahkan pada perlindungan elemen arsitektur, pengurangan beban bangunan, pembatasan jumlah pengunjung, serta pemantauan berkala terhadap kondisi struktur.

Bagi Iskandar, fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa warisan sejarah tidak cukup dipahami hanya melalui legenda yang berkembang di masyarakat. Di balik kemegahan Jam Gadang, terdapat pencapaian teknologi konstruksi yang menjadi bukti kemajuan teknik bangunan di Sumatera Barat sejak hampir satu abad lalu.

“Warisan budaya perlu dipahami melalui penelitian ilmiah sehingga tidak hanya dikenang sebagai legenda, tetapi juga sebagai bukti pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi pada zamannya,” ujarnya. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |