Ramadan Transformatif, Dari Ritualistik ke Karakteristik

5 hours ago 8

Seperti biasa, Ramadan tahun ini juga ditandai membludaknya ruang publik oleh atmosfer dan nuansa religius. Rumah ibadah ramai, ceramah agama di mimbar dan media meningkat drastis, bahkan di banyak tempat peserta didik dibina aspek keagamaannya secara khusus. Secara kasat mata simbol-simbol kesalehan menguat, spiritualitas seolah menemukan momentumnya. Namun, pada saat bersamaan kasus korupsi, manipulasi, ketidakadilan, dan beragam patologi sosial lain tetap muncul di pemberitaan. Artinya, ada kecenderungan selama ini ritual tahunan itu berjalan meriah, tetapi di sisi lain moral dan etika tetap bermasalah. Padahal sejatinya puasa tidak berhenti hanya sebatas ibadah rutin tiap Ramadan, tetapi bertujuan teleologis membangun individu yang berkarakter takwa, yakni kesadaran etik sebagai kompas moral yang fungsional bahkan meski ketika tak ada pengawasan manusia sekalipun. Lantaran itu, transformasi Ramadan menuju karakteristik takwa dalam segala aspek kehidupan individual maupun sosial, adalah hakekat yang mesti terus diupayakan.

Market Religion, Religious Entertainment, dan Religious Spectacle

Di banyak tempat, semarak Ramadan tampak lebih mengemuka sisi ritual rutin tahunan penuh seremonialnya, ketimbang momentum untuk meng-upgrade spiritual menjadi lebih baik. Pergeseran dari religiusitas substantif ke religiusitas simbolik dengan kasat mata bisa dilihat dari data empiris hampir sepanjang bulan puasa. Lonjakan konsumsi rumah tangga justru terjadi dibanding bulan-bulan biasa, sejak dari makanan dan minuman, hingga kebutuhan komoditas menjelang lebaran seperti busana baru, parcel, dan dekorasi rumah. Ramadan tampak berubah menjadi ajang festival konsumsi musiman, sehingga religiusitas pun berbaur dengan market religion. Agama beroperasi dalam logika pasar, akibatnya ritual dan simbol menjadi komoditas layaknya dalam sistem ekonomi. Komodifikasi pun menjadikan agama masuk dalam industri budaya religius yang nyaris kehilangan makna. Padahal, secara normatif puasa justru dimaksudkan sebagai training menahan diri dari gejolak nafsu sekaligus membangun pola hidup sederhana.

Begitu pula gejala komersialisasi agama berlangsung massif di dunia industri entertainment, seperti televisi. Tidak hanya promosi produk bertema religi, tetapi juga program yang tampaknya lebih mengutamakan nilai jual, rating dan iklan. Sehingga, seringkali tayangan keagamaan diproduksi dengan logika industri media tanpa menimbang dampak kehilangan substansinya. Format religious entertainment memaksa faktor popularitas seperti “ustadz seleb” lebih diprioritaskan sebagai nara sumber bintang tamu meski miskin otoritas. Sinetron religi, reality show, dakwah komedi, dan sejenisnya, cenderung lebih kental nuansa hiburan dan minim edukasi religius spiritual. Meski secara sosial memiliki dampak positif seperti jangkauan audiens dakwah yang makin luas dan agama tetap hadir di ruang publik, namun dampak negatifnya amat signifikan. Agama bisa berpotensi sebagai hiburan semata, hingga munculnya religiusitas simbolik yang nihil transformasi etis.

Fenomena demikian bisa dibaca kritis dari perspektif “masyarakat spektakel”, meminjam istilah Guy Debord dalam karyanya The Society of the Spectacle (2002), terjemahan dari La société du spectacle (1967). Menurut Debord, masyarakat modern semakin hidup dalam dunia citra dan representasi. Realitas tidak lagi hanya dijalani, tetapi juga dipertontonkan di ruang publik, termasuk agama. Religious spectacle terjadi ketika simbol dan ekspresi agama menjadi bagian dari budaya pertunjukan. Kesalehan tidak hanya dirasakan personal, tetapi juga ditampilkan sebagai citra publik. Meski Ramadan memiliki dimensi sosial seperti mempererat solidaritas dan memperkuat komunitas, tetapi perspektif “masyarakat spektakel” mengingatkan bahwa dominasi simbol berisiko serius. Agama bisa lebih dipentingkan pada penampakan luar dibanding transformasi moral. Perhatian utama pada “apa yang terlihat”, semisal busana dan aksesoris religius, ungkapan kesalehan di medsos sosial, atau festival keagamaan besar dan meriah. Sementara dimensi batiniah seperti kejujuran, empati, dan integritas moral nyaris hilang.

Revitalisasi Karakteristik Takwa

Meski dari perspektif sosiologi agama, religious spectacle sulit dihindari dalam masyarakat modern lantaran ruang publik sangat dipengaruhi media, pasar, dan budaya visual, namun fenomena ini dapat dikendalikan agar makna spiritualitas agama tidak tercerabut dari simbol. Upaya mendasar adalah reorientasi ibadah untuk transformasi moral. Sejatinya Islam berprinsip ibadah bukan sekadar ritual, tetapi bertujuan membentuk karakter. Puasa sendiri diarahkan pada lahirnya takwa, berarti penekanannya justru pada latihan pengendalian diri dan perbaikan akhlak, sehingga agama bertransformasi menjadi etika. Mengutip nasehat popular Imam al-Ghazali, bahwa ibadah tanpa perubahan moral hanya menjadi ritual kosong.

Dari aspek tasawuf, revitalisasi etika spiritual yang menekankan keikhlasan sangat urgen dilakukan untuk mengembalikan makna sejati ibadah yang pada “masyarakat spektakel” telah digeser perilaku riya. Jalauddin Ar-Rumi menekankan bahwa spiritualitas hakiki tidak terletak pada tampilan luar, tetapi pada kedalaman batin. Selain itu, penguatan dimensi etika sosial agama juga sangat penting. Tidak saja kejujuran, kepedulian sosial, keadilan, tetapi juga solidaritas kaum lemah harus selalu ditumbuhkembangkan secara permanen pasca Ramadan.

Tak kalah pentingnya adalah pendidikan agama yang reflektif, bukan sekedar seremonial formal belaka. Dalam konteks bulan puasa, Pesantren Ramadan mesti diarahkan pada pemahaman makna ibadah, refleksi etis dari ajaran agama, serta kesadaran kritis terhadap budaya konsumerisme religius, market religion, dan religion entertainment.

Pada akhirnya pemahaman agama yang dangkal, formalistik ritualistik semata, akan tergantikan oleh pemahaman substantif yang membentuk karakteristik takwa. Semua ini akan menumbuhkan spiritualitas autentik, yakni ketika agama menjadi refleksi diri, ibadah dijalani dengan kesadaran batin, dan ritual menjadi wahana character building. Dengan begitu agama tidak terdegradasi menjadi industri simbol religius, dakwah sebagai hiburan, dan religiusitas hanya sebatas branding sosial. Wallahu a’lam!

*Penulis: Faisal Zaini Dahlan (Dosen UIN IB Padang)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |