Belajar dari Venezuela, Sumbar Diingatkan Tragedi Gempa Kembar Guncang Padang Panjang 1926

13 hours ago 11

Langgam.id – Peristiwa gempa kembar yang mengguncang Venezuela, Rabu (24/6/2026), mengingatkan masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) untuk kembali menengok salah satu bencana geologi terbesar yang pernah terjadi di daerah ini, yakni gempa kembar Padang Panjang pada 28 Juni 1926.

Praktisi Geographic Information System (GIS) Sumbar, Timtim Deby Purnasebta, mengatakan peristiwa yang terjadi hampir satu abad lalu tersebut merupakan salah satu bencana geologi paling dahsyat dalam sejarah Sumbar.

Saat itu, Padang Panjang diguncang dua gempa utama dalam rentang waktu kurang dari tiga jam yang mengakibatkan ratusan korban jiwa serta kerusakan besar di berbagai wilayah.

“Berdasarkan rekonstruksi data seismologi modern terhadap catatan historis, peristiwa tersebut kini dikenal sebagai gempa kembar atau earthquake doublet. Ratusan orang meninggal dunia, ribuan bangunan rusak, longsor memutus akses transportasi, bahkan Danau Singkarak mengalami fenomena seiche akibat guncangan yang sangat kuat,” ujarnya, Jumat (26/6/2026)

Menurutnya, fenomena gempa kembar berbeda dengan pola gempa yang umum dipahami masyarakat. Biasanya, satu gempa besar diikuti oleh serangkaian gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Namun dalam gempa kembar, dua gempa utama dengan kekuatan yang relatif sama terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Dalam kajian seismologi, kondisi tersebut merupakan bentuk pelepasan energi yang kompleks. Perubahan distribusi tegangan pada satu segmen patahan dapat memengaruhi segmen lain yang telah berada dalam kondisi kritis sehingga memicu gempa berikutnya.

Timtim menjelaskan, pelajaran dari peristiwa tersebut sangat relevan bagi Sumatera Barat yang dilintasi oleh Sesar Besar Sumatra, salah satu sistem sesar aktif utama di Indonesia.

Sistem sesar tersebut terdiri dari banyak segmen yang saling terhubung sehingga perilaku kegempaannya dapat berlangsung lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami masyarakat.

“Kondisi ini bukan berarti gempa kembar akan kembali terjadi di Sumatera Barat. Namun sejarah menunjukkan bahwa sistem sesar aktif dapat bekerja dengan mekanisme yang lebih kompleks sehingga perlu menjadi perhatian dalam upaya mitigasi,” katanya.

Ia menilai, peristiwa gempa kembar Venezuela yang menjadi perhatian dunia saat ini seharusnya tidak dipandang sebagai alasan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

“Sebaliknya, fenomena tersebut perlu dijadikan untuk memperkuat pemahaman terhadap sejarah kebencanaan daerah dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai praktisi GIS, Timtim menegaskan bahwa besarnya dampak bencana tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh cara manusia menata ruang dan membangun wilayahnya.

Faktor seperti kepadatan penduduk, kondisi geologi, kualitas bangunan, jaringan transportasi, hingga lokasi fasilitas vital sangat memengaruhi tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.

“Gempa dengan magnitudo yang sama bisa menghasilkan dampak yang berbeda. Ketika jalan utama terputus akibat longsor, distribusi logistik akan terganggu. Ketika rumah sakit sulit diakses pascabencana, pelayanan darurat menjadi terhambat. Karena itu, aspek tata ruang memiliki peran yang sangat penting dalam pengurangan risiko bencana,” jelasnya.

Melalui analisis spasial, berbagai informasi seperti sesar aktif, kawasan rawan longsor, kepadatan penduduk, jaringan jalan, rumah sakit, sekolah, hingga pusat ekonomi dapat diintegrasikan dalam satu sistem untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat mitigasi struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural dilakukan melalui pembangunan gedung tahan gempa, penguatan fasilitas kesehatan, sekolah, jembatan, dan infrastruktur strategis lainnya sesuai standar ketahanan gempa.

Selain itu, kebijakan tata ruang harus benar-benar menjadikan informasi geologi sebagai dasar utama dalam menentukan arah pembangunan sehingga kawasan dengan tingkat bahaya tinggi tidak berkembang tanpa pengendalian.

Di sisi lain, mitigasi non-struktural juga dinilai tidak kalah penting. Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, pemahaman jalur penyelamatan, serta peningkatan literasi masyarakat mengenai karakteristik gempa di Sumatera Barat perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, sesungguhnya tantangan hari ini bukan lagi kekurangan data. Peta sesar aktif sudah tersedia, teknologi pemetaan semakin maju, dan kajian kebencanaan terus diperbarui.

“Tantangan terbesar adalah bagaimana seluruh informasi tersebut benar-benar digunakan sebagai dasar dalam setiap kebijakan pembangunan dan penataan ruang,” ujarnya.

Timtim menegaskan bahwa gempa bumi memang tidak dapat dicegah. Namun, korban jiwa dan kerugian dapat diminimalkan apabila pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan risiko bencana sejak awal.

Menjelang peringatan 100 tahun gempa Padang Panjang 1926 pada 2026, ia berharap sejarah tersebut tidak sekadar menjadi catatan masa lalu, melainkan menjadi pelajaran berharga dalam membangun Sumbar yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan.

“Ukuran keberhasilan mitigasi bukanlah seberapa cepat kita bereaksi setelah gempa terjadi, melainkan seberapa baik kita menata ruang, membangun infrastruktur yang tangguh, dan menyiapkan masyarakat sehingga semakin banyak nyawa yang dapat diselamatkan ketika bencana datang,” pungkasnya. (WAN)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |