Tekan Inflasi, BI Sumbar Dorong Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah Diperluas

11 hours ago 11

Langgam.id — Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat mendorong pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk terus mengintensifkan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebagai langkah menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi di daerah.

Langkah tersebut dinilai penting menyusul meningkatnya inflasi bulanan Sumatera Barat pada Mei 2026 yang mencapai 0,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah dan bawang merah, menjadi faktor utama pendorong inflasi.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, mengatakan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah perlu terus diperkuat agar masyarakat tetap memperoleh akses terhadap bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

“Intensifikasi operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu langkah yang terus didorong untuk menjaga keterjangkauan harga pangan strategis, terutama di wilayah yang mengalami tekanan inflasi relatif tinggi,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (6/6/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumatera Barat pada Mei 2026 terutama dipicu kenaikan harga cabai merah yang mengalami inflasi sebesar 26,03 persen secara bulanan. Komoditas tersebut memberikan andil terbesar terhadap inflasi dengan kontribusi sebesar 0,40 persen.

Kenaikan harga cabai merah dipengaruhi meningkatnya permintaan menjelang Hari Raya Idul Adha serta terganggunya pasokan akibat penurunan produksi dan kerusakan hasil panen yang dipicu curah hujan tinggi di sejumlah daerah sentra produksi.

Selain cabai merah, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga bawang merah, minyak goreng, nasi dengan lauk pauk, serta tarif angkutan udara.

Meski demikian, secara kumulatif sejak Januari hingga Mei 2026, inflasi Sumatera Barat masih relatif terkendali pada level 0,47 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1,80 persen.

Menurut Andy, selain operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah, BI bersama TPID juga terus memperkuat berbagai strategi pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan dan distribusi pangan.

Langkah yang dilakukan antara lain memperkuat kerja sama antar daerah untuk menjaga ketersediaan pasokan, mempercepat perbaikan sarana distribusi pascabencana, serta meningkatkan kapasitas petani dalam menghadapi risiko cuaca ekstrem.

BI juga mendorong pengembangan urban farming dan penguatan kelompok tani hortikultura sebagai upaya menjaga ketersediaan stok komoditas strategis seperti cabai dan bawang saat terjadi gangguan pasokan.

“Pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan ketika harga naik, tetapi juga melalui upaya menjaga kesinambungan produksi dan distribusi pangan agar pasokan tetap tersedia sepanjang tahun,” kata Andy.

Ia optimistis inflasi Sumatera Barat pada 2026 tetap dapat dijaga dalam rentang sasaran inflasi nasional. Namun demikian, berbagai risiko seperti cuaca ekstrem, gangguan rantai pasok, dan disparitas harga antarwilayah tetap perlu diantisipasi melalui sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, BI, dan seluruh pemangku kepentingan.

Dengan penguatan operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, dan berbagai program pengendalian lainnya, BI berharap stabilitas harga pangan dapat terus terjaga sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat berlangsung lebih baik. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |