“Akhir-akhir ini minat anak muda terhadap sejarah amat rendah. Tetapi kecendrungan ini tampaknya juga terjadi di kalangan kaum politisi di negeri ini. Kebanyakan mereka tidak lagi mempelajari seiarah. Padahal para politisi dari generasi “the founding fathers” di masa lalu memiliki apresiasi sejarah yang amat intens.”
Demikian ditulis sejarawan Indonesia, mendiang Profesor Mestika Zed, ketika beliau dengan rendah hati, memberi “kata pengantar” untuk buku saya berjudul “Tambiluak, Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah“. Buku ini dicetak Citra Budaya Indonesia tahun 2008 (ISBN 9789793458175), dan digitalisasi Unversitas Michigan, Amerika Serikat, sejak 13 Juli 2010.
Hampir dua dasawarsa berlalu, pernyataan Profesor Mestika Zed, masih relevan. Memang tidak banyak politisi di negeri ini yang menaruh minat terhadap sejarah. Khusus di Sumatera Barat, sejak tahun 2000-an ke atas, politisi yang menaruh minat terhadap sejarah dapat dibilang jari. Selain Fadli Zon yang kini menteri, ada nama Gamawan Fauzi, Irman Gusman, sejumlah kepala daerah/wakil kepala daerah, dan beberapa pimpinan/anggota DPRD, baik yang sudah mantan, maupun yang masih aktif.
Namun, pekan lalu, saat menghadiri peresmian SMP Islam Darul Hakim yang didirikan Hakim Agung Dr Irfan Fachrudin di Jorong Bumbuang, Situjuah Batua, Limapuluh Kota, saya cukup terkejut, sekaligus angkat topi. Ternyata, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, menaruh minat tinggi terhadap sejarah. Saya tahu, Mahyeldi adalah Ketua Forum Bela Negara dan Ketua DHD 45. Namun, saya mengira, perhatian Buya untuk sejarah, cuma tercurah buat sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terutama PDRI semata.
Bahkan, harus jujur saya katakan, ekspektasi saya lebih rendah. Saya kira, jabatan Ketua Forum Bela Negara dan Ketua DHD 45 Sumatera Barat yang diemban Mahyeldi, lebih karena faktor beliau gubernur dua periode. Rupanya, perkiraan saya meleset. Mahyeldi, meminjam pernyataan Profesor Mestika Zed dalam “kata pengantar” buku saya, sudah meniru jejak langkah para politisi dari generasi “the founding fathers” yang memiliki apresiasi sejarah amat intens.
Walau dalam pidatonya, Mahyeldi belum sepenuhnya menjadikan sejarah sebagai rujukan dan sekaligus “amuninsi” untuk mengkritisi realitas yang sedang berlangsung. Namun, saat berpidato dalam peresmian SMP Islam Darul Hakim, Mahyeldi boleh dibilang gubernur pembaca sejarah dan menguasai sejarah. Awalnya, Mahyeldi bercerita soal menhir Maek, saksi sejarah peradaban tua dunia yang terhampar di Bukit Barisan, Limapuluh Kota.
Tak hanya menhir Maek, Mahyeldi juga menyebut soal Gua Lida Ajer di Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon kepada saya pernah disampaikan, bahwa Goa Lida Ajer dan fosil gigi manusia purba yang ditemukan Eugene Dubois di gua tersebut, merupakan salah satu bukti Indonesia poros peradaban dunia. Apalagi, sampai hari ini, belum ada ahli membantah, fosil gigi di Lida Ajer adalah fosil gigi manusia purba tertua di Asean, bahkan di Asia Pasifik.
Kemudian, Mahyeldi menyinggung situs menhir di Kabupaten Tanan Datar. Buya Mahyeldi mengaku tertarik dengan bukti-bukti pra-sejarah tersebut karena menjadi pembicaraan perantau Minang di Malaysia, terutama Tan Sri Rais Yatim atau lebih tepatnya Tan Sri Dato’ Seri Utama Rais bin Yatim. Karena itu, menurut Mahyeldi, pada Oktober 2026 nanti, akan ada ahli sejarah dari Australia, yang melihat segala sesuatu dari menhir, terutama menhir Maek.
Mahyeldi juga menyebut, sudah banyak tulisan tentang kekayaan sejarah yang dimiliki Sumbar. Ini menunjukkan masyarakat Sumbar sudah berbudaya sejak ribuan tahun lalu. Apalagi, kata Mahyeldi, ada satu dokumen dalam taurat berbicara tentang ophir. “Ophir itu emas. Ada yang menyatakan, emas Sulaiman itu dari ophir. Kata Tengku Zulkarnain, ophir diperkirakan di dua tempat. Salah satunya, ophir di Pasaman, Kecamatan Gunung Beremas,” ujar Buya.
Saya pikir, Mahyeldi berbicara sejarah hanya sampai di sini saja. Ternyata, tidak. Gubernur bekas garin masjid ini, menukilkan pula sejarah beberapa personel ternama di Asia Tenggara yang berasal dari Minangkabau atau Sumatera Barat. ” Bahkan, Raja di Negeri Sembilan, didatangkan dari Minangkabau. Limapuluh Kota. Siapa yang menciptakan lagu Singapura? Siapa yang menciptakan ibukota Filipina, Manila? Itu orang Minangkabau,” tukuknya.
Tidak lupa pula, Mahyeldi bercerita hebatnya Ibrahim Datuk Tan Malaka, satu-satunya pahlawan nasional dari Limapuluh Kota, Bapak Republik Indonesia yang punya 23 nama. Berpindah dari satu negara ke negara lain. “Kalau bukan karena kecerdasan, kepintaran, dan jaringan, itu tak akan bisa dilakukan. Satu-satunya warga asal Sumbar, asal Limapuluh Kota, memimpin di Asia Tenggara adalah Tan Malaka,” ujar Mahyeldi.
Pada bagian lain pidatonya, Mahyeldi menceritakan pahlawan nasional Rahma El-Yunusiyah dan Diniyah Puteri-nya yang menginspirasi sampai ke Kairo, Mesir. Yang kisah hidupnya ditulis wartawan senior Khairul Jasmi dengan sangat ciamik. Diceritakan pula oleh Buya Mahyeldi tentang Bagindo Dahlan Abdullah, dari guru di Pariaman, jadi Duta Besar di Iran. Kemudian, Buya Mahyeldi menyebut, dibalik kehebatan Pancasila dan pembukaan UUD 1945, ada peran besar tokoh-tokoh asal Sumbar.
Walau menurut Mahyeldi, penduduk sumbar hanya 2,3 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Tapi persentase pejuang dan pahlawan bangsa dari Sumbar, lebih banyak dari provinsi lain. “Empat orang pendiri bangsa ini, tiga dari sumbar. Satu dari dua proklamator banga berasal, dari Sumbar. PDRi yang ada di Sumbar, perjalanannya dari Bukittinggi dan Limapuluh Kota sampai ke Solok Selatan, penyambung nyawa NKRI. Tak ada PDRI. Tak ada Indonesia,” kata Mahyeldi.
Buya menyebut, kiprah tokoh Minang di pentas sejarah, banyak ditulis wartawan senior Hasril Chaniago. Dengan menyimak beberapa kiprah personel asal Minangkabau dan tokoh bangsa asal Sumatera Barat, Mahyeldi meyakini, kemajuan peradaban sangat menentukan sebuah bangsa. Makanya, menurut Mahyeldi, tidaklah mengherankan, peradaban Minangkabau yang unggul itu, telah mengirimkan orang-orang terbaik yang punya wawasan kebangsaan, kebumiaan, keindonesiaan dan internasional.
Tapi yang menarik, seperti halnya Profesor Mestika Zed dan banyak akademisi di negeri ini, Buya Mahyeldi yakin, tak ada pemberontakan dari Sumbar. Tapi, diakui Mahyeldi, tokoh-tokoh berdarah Sumbar, memang kritis. Belakangan, ada Feri Amsari, Ferry Irwandi, Dino Pati Djalal, dan Djohermansyah Djohan yang berpengalaman di pemerintahan. Mereka memberi masukan. Karena yang mendirikan bangsa ini mayoritas orang Minang, maka Sumbar tentu harus tetap berikan yang terbaik untuk NKRI.
“Walaupun bagaimana suhunya dari pusat sana. Saya merasakan, bagaimana suhunya itu. Kadang turun, kadang tinggi. Kini agak tinggi. Sebelumnya dingin bana. Tapi, bagaimana pun kondisinya, kita Sumbar tetap berikan kontribusi terbaik untuk bangsa ini. Karena kita pejuang, pendiri, proklamator, dan penyelamat republik ini. Di dalam generasi kita, mengalir darah pejuang, pendiri bangsa, dan mengalir darah penyelamat bangsa,” ulas Mahyeldi.
Tentu saja, tidak semua pidato Mahyeldi Ansharullah, saya kutip untuk tulisan ini. Tapi pendek kata, saya yang bukan pemilih Buya Mahyeldi di periode keduanya, melihat, Gubernur Sumbar berjanggut lebat serupa diplomat jenaka Inyiak Agus Salim ini, sungguh-sungguh menaruh perhatian terhadap sejarah. Meski tidak terdidik di bidang sejarah, tapi sebagai bagian kecil dari masyarakat sejarah Sumatera Barat, saya sungguh angkat topi untuk hal ini.
Tentu saja, sejarah-sejarah masa lalu itu tidak untuk “diberhalakan”. Tapi ketika Gubernur Mahyeldi membaca dan meraba sejarah, besar sekali harapan, program dan kegiatan strategis Pemprov Sumbar ke depan, berpihak pada kebudayaan. Tentu saja, sejarah masa lalu, tidak sekedar untuk. “didongengkan”. Tapi mesti dijadikan pelajaran dan pengalaman. Sehingga dengan mempelajari sejarah, perjuangan ke depan, tidak kehilangan elan vitalnya. Karena historia vitae magistra: sejarah adalah guru! (***)
Catatan: Penulis M. Fajar Rillah Vesky adalah Anggota DPRD Limapuluh Kota

14 hours ago
12















































