Kreatif! Siswa SMAN 1 Sukabumi Sulap Limbah Jadi Produk Cuan hingga Dilirik Donatur Jepang

5 hours ago 7

SUKABUMI – Ekstrakurikuler Youth Environmental Club (YEC) SMAN 1 Kota Sukabumi tidak hanya mengajak siswa peduli terhadap lingkungan. Lebih dari itu, YEC melatih siswa untuk mengolah berbagai jenis limbah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai jual.

Pembina YEC SMAN 1 Kota Sukabumi, Betti Karliati, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah bagi siswa untuk belajar sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan lingkungan melalui praktik langsung.

“YEC sebagai wadah bagi siswa yang ingin belajar dan peduli akan lingkungan kita,” ujar Betti.

Menurutnya, kegiatan YEC terbagi dalam tiga agenda utama, yakni kegiatan mingguan, bulanan, dan tahunan. Kegiatan mingguan diisi dengan latihan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota, sedangkan kegiatan bulanan meliputi pembuatan produk ramah lingkungan serta pembinaan ke sekolah lain.

Sementara itu, program tahunan YEC antara lain penghijauan bersama sekolah binaan, ecocamp, hingga Greenwave yang dilaksanakan di masing-masing sekolah.
Salah satu keterampilan yang diajarkan kepada anggota YEC adalah memanfaatkan limbah organik yang banyak ditemukan di lingkungan sekolah.

Daun-daun yang berguguran menjadi salah satu limbah yang paling mudah ditemukan, terutama saat musim kemarau. Limbah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membuat kompos, eco enzyme, briket daun hingga ecoprint.

Untuk membuat kompos, siswa menampung dan menimbun daun dengan tanah, kemudian menambahkan air cucian beras atau eco enzyme untuk membantu proses penguraian.

Sementara bahan eco enzyme dapat berasal dari sisa sayuran maupun kulit buah. Bahkan, sisa makanan dan kulit buah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dimanfaatkan menjadi bahan pembuatan eco enzyme.

“Intinya barang yang ada di sekitar kita jangan langsung dianggap sampah. Kita ajarkan bagaimana sesuatu yang tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Tak hanya limbah organik, siswa YEC juga diajarkan memilah dan memanfaatkan limbah anorganik. Prosesnya dimulai dari pemilahan sampah bersih yang dikumpulkan dari masing-masing kelas dan berpotensi untuk didaur ulang.

Botol plastik menjadi salah satu limbah yang banyak ditemukan. Bagian tutup botol dapat dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan, sementara botolnya dapat dikumpulkan untuk dijual.

Dari proses tersebut, siswa telah menghasilkan sejumlah produk, seperti gantungan kunci, ecohat, tas anyaman, media lukisan dari kertas daur ulang, sabun dan lilin dari minyak jelantah, serta berbagai produk kreatif lainnya.

Produk yang dibuat tidak sekadar mengutamakan kreativitas, tetapi juga diarahkan agar dapat digunakan kembali dan memiliki nilai ekonomi.
Beberapa produk bahkan telah dipamerkan dan dijual, seperti gantungan kunci dan produk ecoprint. Sementara sabun dari minyak jelantah telah dimanfaatkan untuk mencuci tangan di lingkungan sekolah.

Kegiatan lain yang terus dikembangkan YEC adalah ecoprint, yakni teknik memanfaatkan bahan alami seperti daun untuk menghasilkan motif pada kain atau media lainnya.
Menurut Betti, ecoprint menjadi salah satu kegiatan yang dikembangkan karena berkaitan dengan pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) di kelas XII sekaligus menjadi salah satu ciri khas sekolah.

Daun dan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekolah dapat digunakan sebagai sumber motif untuk membuat berbagai produk, seperti totebag, taplak meja, mug, kertas hingga kain.

“Untuk ecoprint, bagian dari mengabadikan hasil alam. Motif yang muncul bisa bertahan lama dibandingkan dengan daun aslinya,” ungkap Betti.

Kegiatan tersebut juga membuka peluang kewirausahaan bagi siswa. Produk yang dihasilkan dapat dijual maupun dikembangkan menjadi jasa pelatihan yang diberikan kepada sekolah lain.

Betti menilai keterampilan paling penting yang diperoleh siswa melalui YEC bukan hanya kemampuan membuat produk, melainkan kesadaran terhadap lingkungan.
Siswa dilatih untuk melihat sampah dari sudut pandang berbeda. Sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi barang yang bermanfaat bahkan menghasilkan uang.

“Yang paling mahal adalah kesadaran lingkungan. Setelah itu mereka bisa terampil memanfaatkan sampah di sekitarnya,” katanya.

Konsep tersebut juga mendorong siswa untuk menerapkan keterampilan yang diperoleh di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Sejumlah siswa bahkan mulai mempraktikkan pengolahan limbah di rumah.

Menurut Betti, arah kegiatan YEC juga berkaitan dengan pembekalan kewirausahaan. Siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga memahami bahwa produk ramah lingkungan dapat menjadi peluang usaha.
Hal itu dinilai penting sebagai salah satu bekal bagi siswa setelah lulus sekolah.

YEC SMAN 1 Kota Sukabumi juga dikembangkan sebagai learning center yang dapat menjadi tempat belajar bagi pihak lain yang ingin memahami pengelolaan lingkungan dan pengolahan limbah.

“Di YEC ada learning center yang siap membantu kalau ada yang mau pelatihan,” tutur Betti.

Melalui konsep tersebut, pengalaman siswa tidak berhenti di lingkungan sekolah. Pengetahuan tentang pemilahan sampah, pengolahan limbah organik dan anorganik, hingga pembuatan produk kreatif dapat dibagikan kepada sekolah maupun masyarakat yang membutuhkan.

Pengembangan kegiatan lingkungan YEC juga mendapat perhatian dari OISCA Nishi Nippon Group, rombongan yang merupakan gabungan para donatur kegiatan OISCA dari Jepang.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kegiatan lingkungan di SMAN 1 Kota Sukabumi, khususnya aktivitas yang dilakukan anggota YEC.

Dalam kunjungan itu, rombongan melihat berbagai produk hasil pengolahan limbah siswa, termasuk kompos, eco enzyme, produk daur ulang dan ecoprint. Mereka juga turut melakukan kegiatan menanam pohon serta membuat ecoprint bersama siswa.

Respons rombongan OISCA pun disebut sangat positif dan terpukau melihat kreativitas siswa.
Bagi YEC, kunjungan tersebut menjadi tambahan motivasi untuk terus menjaga lingkungan. Terlebih, persoalan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab satu sekolah atau satu negara, tetapi merupakan persoalan global.

Kegiatan menanam pohon juga memiliki pesan tersendiri. Meski kunjungan berlangsung singkat, pohon buah dan bunga yang ditanam diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Sementara melalui ecoprint, siswa menunjukkan bagaimana kekayaan alam dapat diabadikan menjadi produk yang memiliki nilai estetika sekaligus ekonomi.

Dari Jepang, YEC juga mendapat penguatan mengenai pentingnya pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah organik, anorganik, dan residu perlu dipisahkan sehingga masing-masing dapat ditangani dengan tepat.

Sampah yang masih dapat dimanfaatkan diolah kembali, sedangkan sampah residu yang memang tidak dapat dimanfaatkan baru dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Bagi YEC SMAN 1 Kota Sukabumi, pengelolaan sampah akhirnya bukan sekadar tentang mengurangi limbah. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi proses pendidikan yang menggabungkan kepedulian lingkungan, kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan siswa.(wdy)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |