Inflasi Mei Menguat, BI Sumbar Yakin Tahun Ini Terkendali di Rentang 2,5 Plus Minus 1 Persen

7 hours ago 8

Langgam.id — Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat optimistis laju inflasi daerah sepanjang 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5 plus minus 1 persen, meskipun pada Mei 2026 terjadi peningkatan inflasi bulanan yang dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado, mengatakan tekanan inflasi yang terjadi pada Mei bersifat sementara dan terutama dipengaruhi faktor musiman menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha serta gangguan pasokan pada beberapa komoditas hortikultura.

“Inflasi Sumatera Barat pada tahun 2026 diprakirakan tetap terjaga dan berada dalam rentang sasaran inflasi nasional. Hal ini didukung normalisasi produksi pertanian, perbaikan sarana distribusi, serta berlanjutnya sinergi pengendalian inflasi oleh TPID,” kata Andy dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (6/6/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Sumatera Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,90 persen secara bulanan (month to month/mtm). Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahunan mencapai 3,91 persen. Namun secara kumulatif sejak Januari hingga Mei 2026, inflasi masih relatif rendah, yakni sebesar 0,47 persen.

Angka tersebut bahkan lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga Mei 2025, inflasi kumulatif Sumatera Barat tercatat sebesar 1,80 persen.

Menurut Andy, kenaikan inflasi pada Mei terutama didorong oleh lonjakan harga cabai merah yang mengalami inflasi sebesar 26,03 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi bulanan.

Kenaikan harga cabai merah terjadi akibat meningkatnya permintaan menjelang Idul Adha yang bersamaan dengan terganggunya pasokan karena penurunan produksi dan kerusakan hasil panen akibat curah hujan tinggi di sejumlah daerah sentra produksi.

Selain cabai merah, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga bawang merah, minyak goreng, nasi dengan lauk pauk, serta tarif angkutan udara.

Meski demikian, tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti daging ayam ras, telur ayam ras, kentang, jengkol, dan emas perhiasan.

Andy menjelaskan, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat berbagai program pengendalian inflasi melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, dan pengelolaan ekspektasi masyarakat.

Langkah yang dilakukan antara lain memperluas operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah, memperkuat kerja sama antar daerah, mempercepat perbaikan infrastruktur distribusi pascabencana, serta meningkatkan ketahanan pasokan hortikultura melalui urban farming dan penguatan kelompok tani.

Meski optimistis inflasi tetap terkendali, BI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai pada paruh kedua tahun ini. Risiko tersebut antara lain cuaca ekstrem yang dapat mengganggu produksi pertanian, disparitas harga pangan antarwilayah, gangguan rantai pasok, serta tekanan harga komoditas global.

“Sinergi pengendalian inflasi akan terus diperkuat agar inflasi Sumatera Barat tetap berada dalam rentang sasaran, sehingga daya beli masyarakat dan stabilitas perekonomian daerah dapat terus terjaga,” ujar Andy.

Dengan inflasi kumulatif yang masih rendah hingga Mei dan berbagai program pengendalian yang terus berjalan, BI meyakini stabilitas harga di Sumatera Barat akan tetap terjaga sepanjang 2026 meskipun menghadapi sejumlah tantangan dari sisi pasokan dan kondisi global. (HER)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |