Langgam.id – Nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) tembus Rp18 ribu pada Rabu (10/6/2026). Kenaikan dollar ini tidak serta-merta memicu lonjakan transaksi di sejumlah money changer di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar).
Pelaku usaha valuta asing menilai, aktivitas penukaran dollar masih relatif normal dan tidak mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini terjadi di sejumlah money changer.
Seorang staf money changer di kawasan Pasar Raya Padang mengatakan, lonjakan dollar ke level Rp18 ribu justru tidak berdampak besar terhadap transaksi jumlah pelanggan di tempatnya bekerja.
“Kalau dibandingkan saat dollar bergerak dari Rp16 ribu ke Rp17 ribu, dampaknya lebih terasa. Sekarang ketika sudah Rp18 ribu, transaksi dolar biasa saja, tidak ada lonjakan yang signifikan,” katanya yang enggan ditulis namanya kepada Langgam.id, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, alih-alih banyak warga ingin menukarkan uang dollar ke rupiah, masyarakat justru memilih menahan dollar yang dimiliki dan belum melakukan transaksi penukaran.
“Ada yang menahan dulu dollar-nya, menunggu apakah masih naik atau tidak. Jadi tidak otomatis ketika dollar tinggi orang langsung menjual,” ujarnya.
Ia menjelaskan, transaksi dollar di money changer tersebut memang tidak sebesar mata uang lainnya seperti ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, atau baht Thailand.
Dalam kondisi normal, transaksi penukaran dollar menjadi mata uang Indonesia hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per hari. Bahkan pada hari-hari tertentu tidak ada transaksi dollar sama sekali.
“Kalau dollar memang tidak terlalu besar perputarannya. Yang paling banyak tetap ringgit, kemudian riyal saat musim haji, lalu baht Thailand dan dolar Singapura,” jelasnya.
Kondisi serupa juga disampaikan Susanti, staf money changer di Jalan Ratulangi Padang. Ia mengatakan, penguatan dollar belum memberikan dampak terhadap jumlah masyarakat yang melakukan penukaran valuta asing.
“Transaksi dollar masih normal. Pembelian ada, penjualan juga ada, tetapi tidak melonjak. Orang lebih banyak bertanya soal kurs daripada benar-benar menukar uang,” ungkapnya.
Namun demikian, Susanti mengakui, penguatan dollar membuat masyarakat semakin memperhatikan perkembangan nilai tukar mata uang asing.
Tidak sedikit warga yang datang hanya untuk menanyakan harga dollar, karena khawatir terhadap dampaknya terhadap biaya perjalanan, pendidikan, maupun pengobatan ke luar negeri.
“Rata-rata yang datang pasti bertanya harga dollar. Walaupun tidak membeli. Karena ketika dollar naik, masyarakat merasa semua kebutuhan yang berkaitan dengan luar negeri ikut menjadi mahal,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku usaha money changer mencatat transaksi mata uang asing yang paling aktif di Padang masih didominasi ringgit Malaysia. Namun dalam beberapa pekan terakhir permintaan ringgit juga mengalami perlambatan seiring kenaikan nilai tukar terhadap rupiah.
Mereka memperkirakan apabila dolar terus menguat dalam jangka panjang, dampak yang lebih terasa justru akan muncul pada aktivitas ekonomi masyarakat.
“Apabila terus naik akan berdampak kepada masyarakat, seperti perjalanan ke luar negeri, biaya pendidikan internasional, hingga kebutuhan pengobatan di negara tetangga,” ucapnya. (WAN)

6 hours ago
8














































