Teknik Supervisi: Mengubah “Bos” Menjadi “Coach” di Era Kerja Modern

14 hours ago 10

Oleh: Sri Sumarni, M.Si
* Dosen Institut Citra Buana Indonesia (ICBI)
* Redaktur Radar Sukabumi

Sudah lama dunia kerja kerja telah berubah di muka bumi ini. Jika dahulu supervisi identik dengan sosok pengawas yang berdiri di belakang punggung karyawan dengan catatan kesalahan, kini teknik supervisi telah berevolusi menjadi seni membangun manusia. Di era di mana fleksibilitas dan kesehatan mental menjadi prioritas, teknik supervisi bukan lagi soal kontrol, melainkan soal kolaborasi.

Namun tidak sedikit yang salah kaprah. Inginnya menjadi seorang supervisor yang hebat, disegani banyak orang akan tetapi tidak suportif di masa kini. Bahkan tidak mungkin dirinya sendiri tidak memiliki kapabilitas di posisi yang diembannya.

Penulis melihat fenomena “Salah Kaprah” supervisor yang sudah lama mendera. Fenomena ini tidak saja terjadi di kota kecil seperti Sukabumi, melainkan juga sudah kadung terjadi dan merata di semua wilayah Republik Indonesia tercinta.

Inginnya dihormati (disegani), akan tetapi tidak mau berinvestasi pada tim dan pengembangan diri sendiri. Fenomena “salah kaprah” supervisor seperti ini sering terjadi karena beberapa alasan mendasar. Pertanyaannya adalah kenapa hal ini terjadi dan dari mana akar masalahnya serta bagaimana formulanya untuk menyadarkannya?

Baiklah, di tulisan kali ini penulis mengambil benang merah terlebih dahulu dari Mentalitas “Boss” vs “Leader”. Bila kita cermat melihat kasus ini, masih banyak yang mengira supervisor adalah posisi kekuasaan untuk memerintah, bukan posisi untuk melayani dan memfasilitasi tim. Ini realita yang terjadi di lapangan.

Tumbuh subur bak cendawan di musim hujan, rasa ketakutan jadi ancaman. Supervisor yang tidak kompeten sering merasa terancam oleh bawahan yang lebih pintar, sehingga mereka justru tidak suportif untuk menjaga dominasi.

Bisa-bisa salah memaknai “Disegani”. Mereka pikir disegani sama dengan ditakuti. Padahal, disegani muncul dari kompetensi dan empati, bukan dari gertakan. Ditambah kurang kapabilitas (Inkompetensi), seringkali seseorang dipromosikan karena jago secara teknis, tapi gagal total dalam soft skills dan manajemen manusia.

Bagaimana cara menjadi supervisor yang efektif, disegani, namun tetap suportif di masa kini? Penulis berikan teknik-teknik esensialnya berikut ini.

Dimulai dari Micro-Managing ke Macro-Leading. Kesalahan terbesar supervisor tradisional adalah micro-managing—mengatur setiap detail kecil pekerjaan tim. Teknik modern justru menekankan pada otonomi. Tekniknya cukup mudah asalkan niat mau berubah dan maju. Caranya adalah berikan “Goal” yang jelas, namun biarkan tim menentukan “Cara” mencapainya. Ini membangun rasa percaya diri dan tanggung jawab pada karyawan.

Berikutnya, jangan lupakan Radical Candor (Kejujuran yang Empatik). Memberi masukan seringkali canggung. Teknik Radical Candor mengajarkan kita untuk memberikan kritik secara langsung namun tetap peduli secara pribadi. Tekniknya bagaimana?

Tekniknya mudah diucapkan tapi hati kecil seolah berat melakukan. Teknik yang dimaksud penulis adalah jangan hanya memuji saat bagus, dan jangan hanya memarahi saat buruk. Gunakan rumus: Tantangan Langsung + Kepedulian Personal. Kritiklah pekerjaannya, bukan pribadinya, dan tawarkan solusi bersama.

Sebelum ke langkah berikutnya, penulis akan mengulas siapa penemu dan pencetus Radical Candor ini. Dia adalah Kim Scott, seorang mantan eksekutif Google dan Apple, serta pelatih CEO (CEO coach) untuk berbagai perusahaan teknologi terkemuka seperti Dropbox, Twitter, dan Qualtrics.

Dari sisi konsep, Radical Candor didefinisikan sebagai kemampuan untuk memberikan umpan balik (bisa pujian maupun kritik) yang menggabungkan dua hal yaitu peduli secara pribadi (Care Personally) sambil menantang secara langsung (Challenge Directly).

Pembaca bisa mencari dan menelaah buku yang berjudul “Radical Candor: Be a Kick-Ass Boss Without Losing Your Humanity”. Buku ini punya faedah luar bisa dalam tataran supervisi. Kim Scott juga mendirikan perusahaan bernama Radical Candor, LLC bersama Jason Rosoff untuk membantu orang membangun hubungan kerja yang lebih baik. Inti dari teknik ini adalah bersikap jujur dan jelas tanpa menjadi kejam.

Lebih jauh, supervisi bukan hanya soal memberi instruksi, tapi menangkap apa yang tidak terucap. Banyak masalah performa kerja berakar dari masalah pribadi atau kejenuhan (burnout). Caranya adalah terapkan Active Listening. Saat sesi one-on-one, simpan ponsel Anda, lakukan kontak mata, dan ajukan pertanyaan terbuka seperti, “Apa tantangan terbesar yang kamu hadapi minggu ini, dan bagaimana aku bisa membantumu?”.

Terakhir Digital Supervision di Era Hybrid. Penulis sengaja menyoroti hal ini. Sejalan dengan maraknya kerja remote, teknik supervisi harus beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan sentuhan manusia. Tinggal gunakan alat manajemen proyek seperti Trello, Notion, atau Asana untuk memantau progres secara transparan.

Hal itu bertujuan bukan untuk memata-matai, tapi agar semua orang memiliki ritme kerja yang sama tanpa perlu meeting berlebihan. Alat bantu manajemen proyek dan produktivitas berbasis cloud ini bisa merencanakan tugas, melacak progres, serta berkolaborasi secara real-time.

Jika Trello unggul di visualisasi Kanban, Asana kuat untuk manajemen alur kerja tim kompleks, dan Notion fleksibel sebagai pusat dokumen, database, dan catatan.

Di industri jasa seperti perhotelan atau kreatif, apresiasi adalah “mata uang” yang meningkatkan motivasi. Jangan menunggu evaluasi tahunan untuk memberi pujian. Gunakan teknik Instant Recognition. Pujian kecil di depan tim atau apresiasi melalui chat grup atas keberhasilan menangani komplain tamu dapat meningkatkan moral secara instan.

Supervisor yang hebat tidak takut timnya menjadi lebih pintar darinya. Tugas Anda adalah menciptakan pemimpin baru. Identifikasi kekuatan masing-masing anggota tim. Berikan tugas yang menantang sesuai minat mereka (stretch assignments). Jadilah jembatan bagi karir mereka, bukan penghambat.

Perlu dipahami bahwa Teknik Supervisi masa kini adalah tentang keseimbangan. Keseimbangan antara ketegasan mencapai target operasional dengan kelembutan dalam merangkul sisi kemanusiaan karyawan. Seorang supervisor hebat tidak hanya memastikan tugas selesai tepat waktu, tapi juga memastikan timnya pulang dengan perasaan dihargai dan berkembang. Ingat, orang tidak meninggalkan pekerjaan yang buruk, mereka meninggalkan supervisor yang buruk. Semoga bermanfaat. (*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |