Oleh: Sri Sumarni, M.Si
Dosen Institut Citra Buana Indonesia (ICBI)
Dunia pariwisata bukan lagi sekadar soal menjual tiket pesawat atau kamar hotel. Di era pasca-pandemi, wajah pariwisata telah berubah total. Wisatawan masa kini tidak lagi mencari kemewahan yang kaku, melainkan pengalaman (experience), koneksi, dan cerita. Inilah alasan mengapa jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) menjadi bensin utama bagi siapa pun yang ingin terjun di industri ini.
Saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak sedikit orang memulai bisnis pariwisata, hanya karena “latah” atau ikut-ikutan tren. Ada kafe baru di pinggir sawah yang viral, semua orang membuat hal yang sama. Hanya saja, seorang entrepreneur sejati justru melihat peluang dari masalah.
Sebagai contoh, wisatawan bosan dengan hotel besar yang impersonal. Lantas apa peluangnya jika itu dilakukan? Bangunlah boutique guest house dengan sentuhan lokal yang hangat. Atau, turis kesulitan menemukan transportasi lokal yang terpercaya? Bangunlah aplikasi atau jasa tur kurasi lokal.
Dari sini penulis menilai bahwa kewirausahaan pariwisata adalah tentang menjawab pertanyaan: “Apa yang belum ada, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan wisatawan?”. Oleh karena itu, kewirausahaan (entrepreneurship) itu bukan sekadar bisnis semata, tapi sejatinya harus mampu menjadi pemecah masalah atau Problem Solving.
Di sisi lain tumbuh subur tren baru di dunia kewirausahaan untuk bisnis pariwisata. Ya, apalagi kalau bukan hadirnya tren “Slow Travel” dan Ekonomi Pengalaman.
Anak muda zaman sekarang (Gen Z dan Millennial) sangat menghargai Slow Travel. Mereka lebih suka tinggal lama di satu tempat, belajar memasak makanan lokal, atau mencoba menenun bersama warga desa daripada mengunjungi sepuluh objek wisata dalam satu hari hanya untuk foto.
Dari sini jika kita pintar melihat peluang, ada peluang kewirausahaan yang tumbuh agresif. Pertama adalah Agrowisata. Banyak sekali peluang uasaha dalam sisi Agrowisata. Di mana kita bisa mengajak tamu memetik kopi sendiri hingga menyeduhnya.
Selain Agrowisata, ada lagi Wellness Tourism. Misalnya paket yoga di tengah hutan atau retret meditasi. Selanjutnya yang juga tidak kalah menarik lagi adalah Digital Nomad Hub, sebuah upaya penyediaan penginapan yang memiliki fasilitas kerja (co-working) yang mumpuni. Peluang ketiga lagi-lagi Digitalisasi. Semua orang dapat berjualan lewat layar, sambil melayani dengan hati.
Di tahun 2026, jika bisnis pariwisatamu tidak ada di internet, maka bisnis itu dianggap tidak ada. Kewirausahaan pariwisata modern menuntut penguasaan teknologi. “Instagrammable is Not Enough”, tempat yang bagus hanya mendatangkan orang sekali. Tapi layanan yang tulus (hospitality) mampu menjadi daya pikat terjitu untuk membuat para wisatawan kembali.
Ada lagi Storytelling di Media Sosial (Medsos). Sebagai seorang entrepreneur, jangan hanya jualan harga kamar. Ceritakan tentang siapa yang memasak sarapannya, dari mana bahan bakunya berasal, dan apa filosofi di balik bangunan bisnismu.
Berikutnya “Sustainability: Green is the New Gold”. Di sini wirausaha pariwisata masa kini harus “sadar lingkungan”. Wisatawan global mulai meninggalkan bisnis yang merusak alam. Mengurangi plastik sekali pakai, mengelola limbah hotel dengan baik, dan melibatkan tenaga kerja lokal bukan lagi sekadar aksi sosial, melainkan strategi pemasaran yang sangat kuat. Bisnis yang ramah lingkungan cenderung memiliki loyalitas pelanggan yang lebih tinggi.
Terakhir harus Resilien (Tahan Banting). Industri pariwisata adalah industri yang paling sensitif terhadap isu global (seperti kesehatan atau ekonomi). Seorang wirausaha pariwisata harus memiliki rencana cadangan. Diversifikasi pendapatan—seperti menjual produk UMKM lokal secara online atau membuka kursus memasak virtual—bisa menjadi penyelamat saat arus wisatawan sedang sepi.
Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa menjadi wirausaha di bidang pariwisata membutuhkan kombinasi antara pola pikir kreatif, keberanian mengambil risiko, dan perencanaan matang. Menjadi wirausaha di bidang pariwisata berarti menjadi seorang narator, pelayan, sekaligus inovator.
Tantangannya besar, namun imbalannya luar biasa. Bukan hanya soal keuntungan finansial, tapi tentang bagaimana bisnis Anda bisa memberikan dampak bagi komunitas lokal dan menciptakan kenangan tak terlupakan bagi orang asing yang datang dari belahan dunia lain. (*)

17 hours ago
11














































