SUKABUMI – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Cisolok–Cisukarame yang digarap oleh PT Daya Mas Cisolok Geothermal (DMCG), menjawab keresahan warga terkait beberapa persoalan yang akan dihadapinya.
Anak perusahaan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) di bawah naungan Sinar Mas Group tersebut, kembali melakukan sosialisasi intensif kepada ratusan warga yang bersinggungan langsung dengan wilayah proyek, tepatnya Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi.
Isu mengenai potensi gempa, longsor, hingga hilangnya sumber air menjadi poin utama yang diklarifikasi perusahaan.
Dalam sosialisasi tersebut, dihadiri oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Republik Indonesia, Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, Forkopimcam, masyarakat adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari empat dusun di wilayah desa tersebut.
Kehadiran para pemangku kebijakan dan masyarakat memperkuat kolaborasi dalam mendukung transparansi informasi terkait keamanan serta manfaat proyek energi bersih di Cisolok-Cisukarame.
Hal ini menegaskan, bahwa proyek tersebut tidak hanya didukung secara administratif, tetapi juga diawasi ketat untuk memastikan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan warga lokal tetap menjadi prioritas utama.
Tentunya keberadaan PLTP ini juga, merupakan harapan besar untuk kemandirian energi nasional yang tengah dipetakan di lereng pegunungan Kabupaten Sukabumi. Di mana, pada tahap awal menjanjikan energi bersih sebesar 50 MW.
Untuk menjawab kegelisahan warga tersebut, pihak perusahaan mengundang Pakar Vulkanologi Prof. Dr. Ir. Nana Sulaksana, MSP. Dia menjelaskan, bahwa pengambilan uap dilakukan melalui lubang kecil yang diperkuat pipa baja, sehingga tidak mengubah struktur gunung.
“Secara teknis, energi panas bumi menerapkan standar pengamanan lereng yang ketat melalui penataan drainase dan dinding penahan tanah. Kehadiran proyek justru memitigasi risiko longsor secara alami melalui penguatan struktur di area kerja yang terencana,” jelas Prof. Nana.
PAPARAN: Salah seorang narasumber saat memberikan paparan kepada ratusan warga yang mengikuti sosialiasi bersama PT DMCG pada Kamis (12/2). FOTO : UNTUK RADAR SUKABUMI
Sementara itu, Pakar Geologi Dr. Ir. Dewi Gentana, MM, memastikan bahwa operasional panas bumi memiliki risiko geologi rendah. Aktivitas ini tidak memicu gempa merusak lingkungan, karena energi yang terlibat jauh lebih kecil dibanding gempa alami.
“Stabilitas tekanan bawah tanah tetap dijaga melalui sistem reinjeksi (pengembalian fluida ke dalam bumi). Terjadi mikroseimik di area panas bumi merupakan getaran tanah yang sangat kecil yang bisa terjadi saat kegiatan panas bumi berlangsung secara alami,dan didukung pemantauan jaringan seismograf secara real-time untuk menjamin keamanan pemukiman warga,” jelas Dr. Dewi.
Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan energi bersih ini sebagai solusi ramah lingkungan yang berjalan sesuai regulasi untuk menjaga kualitas iklim mikro dan produktivitas lahan pertanian.
Integrasi teknologi panas bumi dinilai krusial dalam memastikan kualitas udara tetap bersih sehingga memberikan dampak positif jangka panjang bagi ekosistem sektor agrikultur di wilayah tersebut.
Kolaborasi strategis antara pemerintah pusat dan daerah juga bertujuan mendorong kemandirian energi yang memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat luas.
Melalui proyek ini, prioritas utama diarahkan pada penyerapan tenaga kerja lokal serta penyaluran kontribusi ekonomi melalui bonus produksi guna mempercepat pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan desa-desa di sekitar area operasional.
WAWANCARA: Pimpinan Proyek DMCG, Doni Masditok saat memberikan keterangan kepada awak media terkait proyek PLTP Cisolok–Cisukarame, Kamis (12/2).FOTO: IST
Pimpinan Proyek DMCG, Doni Masditok menegaskan, bahwa keberhasilan proyek panas bumi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kepercayaan dan dukungan masyarakat.
Perusahaan berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi konstruktif dengan pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat guna memastikan setiap tahapan proyek berjalan transparan.
“Kami terus membangun komunikasi yang terbuka agar PLTP Cisolok dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dari sisi energi, sosial, maupun lingkungan,” kata Doni.
Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Cisolok–Cisukarame yang terletak di Kabupaten Sukabumi ini, merupakan salah satu proyek strategis dalam agenda transisi energi nasional.
Proyek ini memiliki target kapasitas pengembangan awal sebesar 2×25 MW dengan potensi total mencapai 45 MW.
Melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, PLTP Cisolok diproyeksikan menjadi sumber listrik bersih yang andal guna memperkuat ketahanan energi di wilayah Jawa Barat.
“Kami optimistis proyek ini akan membawa dampak positif bagi kesejahteraan warga dan mendukung terciptanya energi bersih berkelanjutan di Jawa Barat,” tandasnya.
Doni menjelaskan, jika studi menunjukkan tanah tidak stabil, rekayasa engineering seperti pembangunan turap, pondasi sedalam 20 meter, hingga pengalihan lokasi akan dilakukan.
“Mitigasi adalah prioritas. Kami bekerja sama dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) untuk memastikan aspek biodiversitas tetap terjaga,” tambahnya.
Satu fakta menarik yang diungkapkan adalah efisiensi penggunaan lahan. Meski Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Cisolok mencakup luas 15.000 hektare, area fisik yang digunakan hanya sekitar 20 hektare atau sekitar 0,1 persen saja.
“Berbeda dengan tambang batu bara yang membuka lahan secara luas, panas bumi sangat minim jejak fisik. Sisanya tetap menjadi hutan atau lahan masyarakat seperti sedia kala. Namun, kami tetap membayar iuran WKP kepada negara sebesar USD 2 per hektare saat eksplorasi dan naik menjadi USD 4 saat sudah berproduksi,” jelas Doni.
Proyek ini ditargetkan mencapai fase Commercial Operating Date (COD) pada akhir tahun 2029. Dalam proses perjalanannya, penyerapan tenaga kerja akan dilakukan secara bertahap.
Jika saat ini baru melibatkan puluhan warga lokal sebagai porter, angka tersebut diprediksi melonjak hingga 1.000 pekerja pada puncak pembangunan fisik (civil works).
Mengenai manfaat langsung bagi warga, Doni menyebutkan, bahwa skema CSR (Corporate Social Responsibility) dan Bonus Produksi sudah disiapkan.
Meski bonus produksi baru berjalan saat listrik mengalir, kontribusi sosial seperti renovasi masjid dan bantuan hewan kurban sudah mulai dilakukan sebagai bentuk kulonuwun perusahaan kepada masyarakat setempat.
Sosialisasi di Desa Sinarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, berakhir dengan nada positif. Warga dari empat dusun menyatakan menerima klarifikasi perusahaan dan mendukung kelanjutan aktivitas proyek.
“Alhamdulillah sudah clear. Warga sudah memahami dan menyepakati agar aktivitas lapangan bisa segera dilanjutkan kembali,” tandasnya.
Listrik yang dihasilkan nantinya akan disalurkan sepenuhnya melalui PLN sebagai pembeli tunggal (Independent Power Producer), yang kemudian akan mendistribusikannya untuk menerangi rumah-rumah dan menggerakkan roda ekonomi di Jawa Barat dan sekitarnya.
Jadi, pembangkit listrik independet ini, atau semua listrik yang kami siapkan ini, akan dikirik atau didistribusikan oleh PLN ke rumah-rumah warga, perusahaan atau sekolah-sekolah,” pungkasnya. (why)

4 hours ago
5













































