UPAYA menghadirkan ruang belajar yang ramah, menyenangkan, dan mampu menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini terus digalakkan di berbagai sekolah dasar. Salah satu sosok yang aktif mendorong gerakan tersebut adalah Yeti Supriati, pendamping perpustakaan ramah anak sekaligus Kepala Sekolah SDN 1 Selabintana.
Widi Fitria — Sukabumi
Dengan penuh dedikasi, Yeti Supriati terlibat langsung dalam pengembangan program Perpustakaan Ramah Anak (PRA), sebuah inisiatif kemitraan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang bertujuan menciptakan lingkungan literasi yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Baginya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang hidup yang mampu membangun imajinasi, karakter, dan kecintaan belajar pada anak.
“Perpustakaan ramah anak adalah perpustakaan yang dirancang khusus agar anak merasa nyaman, aman, dan senang untuk membaca serta belajar,” ujar Yeti saat ditemui di sela kegiatan pendampingan.
Konsep perpustakaan ini memang berbeda dari perpustakaan pada umumnya. Jika perpustakaan biasa cenderung kaku dan formal, perpustakaan ramah anak justru menghadirkan suasana yang ceria, fleksibel, dan penuh warna.
Tata ruang dirancang menarik, koleksi buku disesuaikan dengan usia anak, serta penataan buku dibuat berdasarkan jenjang kelas seperti A, B1, B2, hingga C, sehingga memudahkan anak dalam mengakses bacaan.
Tak hanya itu, lingkungan perpustakaan juga dijaga tetap aman, bersih, dan nyaman. Semua elemen dirancang untuk membuat anak betah berlama-lama membaca tanpa merasa terpaksa.
“Anak-anak harus merasa bahwa perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang membosankan,” tambahnya.
Sebagai pendamping PRA, Yeti Supriati memiliki tanggung jawab mendampingi empat sekolah yang telah mendapatkan program tersebut, yakni SDN Perbawati, SDN Peundeuy, SDN 1 Parungseah, dan SDN 2 Cibatu.
Tiga sekolah berada di Kecamatan Sukabumi, sementara satu lainnya berada di Kecamatan Cisaat.
Pendampingan dimulai dari proses lokakarya daring yang diikuti selama tiga kali pertemuan bersama para guru dari sekolah penerima program.
Lokakarya tersebut memberikan pemahaman mendalam terkait konsep, pengelolaan, hingga implementasi perpustakaan ramah anak di lingkungan sekolah.
Selanjutnya, Yeti membentuk grup komunikasi melalui WhatsApp sebagai media koordinasi dan berbagi informasi.
Melalui grup tersebut, ia secara aktif memberikan arahan, masukan, serta panduan teknis kepada sekolah-sekolah dampingan, mulai dari penataan ruang, pengelompokan buku, hingga penyediaan fasilitas pendukung yang membuat perpustakaan lebih hidup.
Tak berhenti di situ, ia juga melakukan kunjungan langsung ke sekolah untuk memastikan kesiapan implementasi program.
Dalam setiap kunjungannya, Yeti mengecek kondisi ruang perpustakaan, menilai kelayakan fasilitas, serta memberikan evaluasi agar standar perpustakaan ramah anak dapat terpenuhi secara optimal.
“Tidak ada target khusus, tetapi saya ingin memastikan setiap sekolah dampingan bisa menghadirkan perpustakaan yang benar-benar ramah anak dan bermanfaat,” ungkapnya.
Program Perpustakaan Ramah Anak sendiri memiliki tujuan besar, yakni menumbuhkan minat baca sejak dini, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, baik dari sisi kognitif, sosial, maupun emosional.
Selain itu, perpustakaan juga diharapkan menjadi ruang yang mampu mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak melalui berbagai kegiatan seperti mendongeng, menggambar, hingga diskusi ringan.
Namun, tidak semua sekolah memiliki kesempatan yang sama. Program ini masih terbatas pada sekolah-sekolah tertentu yang mendapatkan bantuan khusus, termasuk koleksi buku yang dirancang sesuai kebutuhan anak.
Meski demikian, Yeti berharap program ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mulai berbenah dan menghadirkan perpustakaan yang lebih ramah bagi anak.
Ia meyakini bahwa perubahan besar dalam dunia pendidikan bisa dimulai dari langkah sederhana menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang hidup dan dicintai siswa.
“Harapannya, anak-anak semakin tertarik membaca karena suasana perpustakaan yang nyaman dan menyenangkan. Dari sana, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, berkarakter, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,” tuturnya.
Dengan semangat dan komitmen yang terus dijaga, Yeti Supriati membuktikan bahwa peran pendamping bukan sekadar mengarahkan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan.
Melalui perpustakaan ramah anak, ia turut membuka jendela dunia bagi generasi muda dimulai dari ruang kecil penuh warna yang menghadirkan mimpi besar bagi masa depan mereka.(*)

5 hours ago
10









































