Handi salam
HARI ini saya ingat Investasi swasta itu sederhana: orang menaruh uang, berharap untung. Simple. Tapi begitu keuntungan itu menumpuk, ia berubah jadi kekuatan. Kekuatan yang bisa menguasai pasar, bahkan memengaruhi negara. Dari ruang rapat perusahaan, tiba-tiba lahir kebijakan publik yang lebih berpihak pada pemilik modal daripada rakyat.
Kita pun melihat dampaknya: kesenjangan melebar, lingkungan rusak, manusia dieksploitasi. Kendali ada di tangan investor, sementara kepentingan publik sering tersisih.
Negara mencoba menyeimbangkan dengan BUMN. Lahir dari inbreng aset negara. Ada yang berbentuk Perum, ada yang Persero. Secara normatif, BUMN punya dua wajah: melayani publik sekaligus mencari untung.
Tapi di sinilah paradoks muncul. Kalau negara adalah rakyat, maka keuntungan BUMN sejatinya berasal dari rakyat itu sendiri. Kendali pun bukan di tangan rakyat, melainkan di tangan pemerintah.
Padahal, konstitusi kita sudah memberi arah. Pasal 33 UUD 1945 jelas menyebut koperasi sebagai sokoguru perekonomian. Koperasi bukan sekadar badan usaha. Ia adalah instrumen keadilan. Satu orang, satu suara. Demokrasi ekonomi.
Sayangnya, koperasi sering dianggap kecil, tidak strategis. Kita jarang melihat koperasi tumbuh jadi kekuatan besar. Maka ketika muncul gagasan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), resistensi pun muncul.
Orang sibuk memperdebatkan teknis: pembiayaan, SDM, operasional. Padahal substansi utamanya adalah momentum politik ekonomi: mengalihkan kepemilikan aset dari negara ke rakyat.
Kita tahu, persoalan penguasaan aset di Indonesia sudah akut. Segelintir konglomerat menguasai sebagian besar kekayaan nasional. Empat keluarga bisa menyamai kekayaan puluhan juta rakyat termiskin. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan konvensional jelas tidak cukup.
Idealnya, koperasi tumbuh dari bawah. Organik. Dari inisiatif rakyat. Tapi dalam ketimpangan ekstrem, pendekatan itu terlalu lambat. Maka intervensi struktural menjadi kebutuhan. KDKMP bukan sekadar proyek, melainkan koreksi arah pembangunan ekonomi. Aset negara di-inbreng-kan langsung ke koperasi. Tanpa utang, tanpa mengurangi dana desa.
Momentum ini penting. Dari ekonomi yang terkonsentrasi pada segelintir modal, menuju sistem yang lebih adil, demokratis, dan berdaulat di tangan rakyat.
Saya jadi teringat pada satu benda sederhana di rumah sakit: infus. Kemarin saya lihat saat menjemput keponakan di Rumah Sakit.
Botol bening berisi cairan yang menetes perlahan. Tampak remeh, tapi di dalamnya mengalir kehidupan. Ia masuk langsung ke pembuluh darah, melewati semua protokol tubuh. Kalau tubuh adalah negara berdaulat, maka infus adalah diplomat yang mendapat jalur khusus tanpa pemeriksaan imigrasi.
Infus memberi cairan, menjaga tekanan darah, menyalurkan nutrisi. Tanpa infus, banyak prosedur medis runtuh. Ironisnya, kebutuhan vital ini masih banyak bergantung pada impor. Kita punya rumah sakit, punya dokter, punya pasien. Tapi cairan kehidupan itu sendiri, kita sering menengadah ke luar.
Manfaatnya memang tidak langsung terasa seperti hujan deras. Lebih mirip irigasi: mengalir perlahan, menyusup ke sistem, memberi dampak jangka panjang. Tidak spektakuler, tapi fundamental.
Setiap botol infus yang diproduksi di dalam negeri adalah satu langkah kecil menuju kedaulatan. Sebab bangsa yang sehat tidak hanya ditentukan oleh jumlah dokter, tetapi juga oleh kemampuan memproduksi alat dasar kesehatannya sendiri.
Ekonomi dan infus ternyata punya kesamaan.
Keduanya soal aliran. Aliran modal, aliran cairan. Keduanya bisa jadi sumber kehidupan, tapi juga bisa jadi sumber ketergantungan. BUMN, swasta, koperasi, pabrik infus—semuanya bicara soal siapa yang mengendalikan aliran itu. Apakah segelintir orang, pemerintah, atau rakyat sendiri.
Dan di titik ini, kita belajar bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah yang tampak sempit. Dari koperasi desa. Dari botol infus. Dari tetesan kecil yang perlahan menghidupkan tubuh.
Karena pada akhirnya, roh dari demokrasi ekonomi sama dengan roh dari kesehatan: keadilan. Tanpa keadilan, demokrasi hanyalah angka. Tanpa keadilan, infus hanyalah cairan.(*)

8 hours ago
9







































