Sengkarut Masalah PDAM Padang: Air Keruh Diklaim Aman, Disentil Pengamat 

13 hours ago 12

Langgam.id – Sejumlah warga di Kota Padang mengeluhkan kualitas air Perumda Air Minum atau PDAM Kota Padang yang dinilai semakin menurun sejak bencana pada akhir 2025. Kondisi air keruh, bahkan berlumpur. 

Warga menilai, kondisi air seperti itu tidak layak digunakan untuk kebutuhan memasak maupun mencuci pakaian. Hal ini diungkapkan seorang warga Lolong Belanti, Enti. 

Perempuan 59 tahun ini menyebutkan, air yang keruh dan berlumpur mengalir ke rumahnya hampir setiap hari. Setelah air ditampung di ember atau bak mandi lalu didiamkan semalaman, lumpur akan mengendap.

“Kalau didiamkan semalam, lumpurnya mengendap di dasar ember. Bak penampung harus saya kuras seminggu sekali karena banyak lumpur dan tanah yang mengendap,” katanya, Rabu (8/7/2026).

Selain kualitas air, Enti mengungkapkan, distribusi air juga sering terhenti pada siang hari. Air cenderung hanya mengalir lancar pada malam hari, itu pun dengan kondisi air yang juga keruh dan berlumpur.  

Ia terpaksa hanya mengunakan air PDAM untuk mencuci piring. Sedangkan untuk memasak nasi, terpaksa menggunakan air isi ulang galon, karena khawatir kualitas air tidak layak dikonsumsi.

“Kalau untuk masak saya pakai air galon. Air PDAM hanya dipakai untuk mencuci piring saja,” ujarnya.

Meski pelayanan belum maksimal, Enti mengaku tetap membayar tagihan air sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per bulan. Ia mengatakan sempat mendapatkan keringanan pembayaran sebesar 50 persen setelah bencana, namun hanya berlaku selama satu bulan.

“Setidaknya ada kompensasinya, kalau kondisi airnya masih berlumpur,” tegasnya. 

Keluhan serupa juga disampaikan warga Gunung Pangilun, Mira (47). Ia mengatakan, air PDAM di rumahnya sering keruh dengan tekanan air yang kecil. Kondisi itu membuat air tidak bisa digunakan untuk mencuci pakaian maupun memasak.

“Pernah saya pakai untuk mencuci pakaian, hasilnya malah pakaian menguning. Sekarang kalau mencuci saya numpang ke rumah orang tua yang masih menggunakan air sumur,” ungkapnya. 

Beralih ke Sumur Bor 

Kondisi air PDAM Kota Padang yang keruh dan sering mati pada siang hari tersebut, membuat sejumlah pelanggan memutuskan untuk beralih ke sumur bos.  

Hal ini seperti yang dilakukan seorang pedagang sarapan di Belanti bernama Irawan (58). Ia beralih menggunakan pompa air sumur bor untuk memenuhi kebutuhan usahanya.

Sebelumnya, Irawan mengaku masih mengandalkan air PDAM untuk aktivitas sehari-hari. Namun, aliran air hampir setiap siang tidak mengalir, sehingga dirinya terpaksa membeli air galon untuk mencuci peralatan masak dan kebutuhan memasak dagangannya.

Sementara itu, air PDAM biasanya baru mengalir pada malam sekitar pukul 23.00 WIB hingga sekitar 04.30 WIB. Sementara, air yang ditampung saat malam hanya cukup untuk kebutuhan mandi. 

“Kalau siang air mati. Kalaupun hidup malam, paling hanya cukup untuk mandi. Untuk jualan tetap harus beli air galon karena air PDAM keruh dan tidak bisa dipakai bikin lontong, maupun masak nasi,” katanya. 

Karena kondisi tersebut, pada Mei 2026 Irawan membeli satu unit pompa air untuk sumur bor seharga sekitar Rp500 ribu. Pemasangannya dibantu seorang temannya yang pernah bekerja di PDAM.

Sejak menggunakan pompa air, seluruh kebutuhan memasak, membuat lontong, hingga mencuci peralatan dagangan, kini menggunakan air sumur bor. 

“Kalau di bak mandi sekarang sudah pakai aliran air PDAM dan pompa,” ujarnya.

Sebelumnya, seluruh kebutuhan tersebut masih mengandalkan air PDAM, saat kondisinya masih jernih. Kemudian kondisi air PDAM mulai berubah sejak akhir 2025, stelah bencana yang melanda Kota Padang. 

Sejak saat itu air yang mengalir ke rumahnya tidak lagi jernih, melainkan keruh dan bercampur lumpur. Namun demikian Irawan sudah menggunakan air sumur, Irawan tetap mempertahankan sambungan PDAM untuk kebutuhan mandi.

Ia juga masih membayar tagihan air sekitar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu setiap bulan.

“Saya sudah beberapa kali menyampaikan keluhan, tapi sampai sekarang airnya masih keruh. Jadi sekarang saya tidak berharap banyak lagi, lebih baik pakai air dari pompa saja,” tuturnya.

Air Keruh Diklaim Aman 

PDAM Kota Padang memastikan distribusi air yang kualitasnya masih keruh di sejumlah wilayah pelayanan tetap aman digunakan masyarakat. Proses pengolahan air diklaim telah memenuhi standar seusai diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).

“Air yang keruh tersebut aman digunakan, karena tetap kami lakukan proses produksinya sesuai syarat dan ketentuan yang diatur dalam Permenkes,” ujar Humas Perumda Air Minum Kota Padang, Adhie Zein. 

Adhie mengatakan, kondisi air yang masih keruh disebabkan kapasitas produksi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pangilun, belum kembali normal setelah terdampak bencana pada akhir 2025.

Selain itu, kata dia, kualitas air baku dari Sungai Batang Kuranji juga berubah. Kandungan lumpur yang lebih tinggi, dibandingkan sebelum bencana membuat proses pengolahan air menjadi lebih berat.

“Saat ini kondisi air baku lebih banyak mengandung lumpur, sehingga kami harus bekerja lebih keras dalam proses pengolahannya,” ungkapnya.  

Pakar Angkat Bicara 

Pakar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Lingkungan, Isril Berd, menanggapi klaim PDAM Kota Padang yang menyebutkan air keruh masih aman untuk digunakan masyarakat.

Menurutnya, tugas utama PDAM adalah menyediakan air bersih yang layak digunakan oleh masyarakat. Air tersebut harus bebas dari kontaminasi serta memenuhi standar kebersihan.

“Dikatakan air bersih itu seperti apa? Tentu adalah air yang jernih,” ujar Isril. 

Ia menegaskan, bahwa kejernihan air merupakan salah satu indikator penting dalam kualitas air bersih yang disalurkan kepada pelanggan. Air yang tampak keruh menunjukkan adanya kandungan tertentu, sehingga tidak dapat langsung dikategorikan sebagai air bersih.

“Tapi yang jelas, tugas PDAM adalah memastikan bahwa air yang disediakan untuk masyarakat adalah air yang bersih dan jernih,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat sebagai pelanggan berhak memperoleh layanan air bersih dengan kualitas yang baik sesuai fungsi utama perusahaan penyedia air minum.

DPRD Bakal Panggil PDAM 

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang bakal memanggil jajaran direksi PDAM Kota Padang. 

Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, mengatakan keluhan masyarakat mengenai kualitas air menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bagi PDAM untuk memperbaiki pelayanan kepada pelanggan.

“Tentu ini menjadi catatan bagi PDAM, bahwa masyarakat masih mengeluhkan pelayanan ini,” kata Muharlion. 

Ia menilai masyarakat tidak ingin mengetahui berbagai kendala internal yang dihadapi PDAM. Yang diharapkan warga, layanan air bersih yang layak dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, Muharlion meminta PDAM lebih proaktif dengan turun langsung menemui masyarakat guna mengetahui persoalan mendasar yang sedang dihadapi pelanggan. Langkah tersebut penting agar penyelesaian masalah dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Jika ada persoalan yang memerlukan dukungan kebijakan atau pembahasan lebih lanjut, DPRD Kota Padang siap memfasilitasi melalui forum resmi. Menurutnya, persoalan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus menjadi prioritas.

“Kalau memang ada hal yang harus segera dituntaskan, kapan perlu kita bicarakan di DPRD. Karena air bersih ini adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa kita hindarkan di masyarakat,” ujarnya.

Terkait keluhan pelanggan yang tetap membayar tagihan meski kualitas air dinilai belum maksimal, Muharlion menilai PDAM perlu mempertimbangkan kebijakan yang dapat meringankan beban masyarakat.

“Harus dipikirkan, apakah relaksasi kepada masyarakat atau diskon dan segala macamnya. Ini yang harus dipikirkan. Karena kondisi air saat ini menandakan pelayanan yang diberikan belum maksimal,” tegasnya.

Muharlion juga tidak menutup kemungkinan DPRD akan memanggil pihak PDAM untuk meminta penjelasan apabila permasalahan tersebut belum segera ditindaklanjuti. 

Komisi terkait di DPRD akan didorong untuk mengawal persoalan tersebut hingga pelayanan kepada masyarakat benar-benar membaik.

“Kita dorong komisi terkait untuk menindaklanjuti. Bisa saja dilakukan pemanggilan terhadap pihak PDAM,” pungkasnya. (WAN) 

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |