Direktur Perumda AM TBW Kota Sukabumi, Dian Apriandi, saat diwawancari belum lama ini. (IST)RADARSUKABUMI.COM – Kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai berdampak terhadap sejumlah sumber air baku Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa (AM TBW) Kota Sukabumi. Meski secara umum kondisi pasokan air masih terbilang stabil, penurunan debit mulai terlihat pada salah satu sumber utama, yakni Mata Air Batukarut.
Direktur Perumda AM TBW Kota Sukabumi, Dian Apriandi, mengatakan kondisi sumber air baku hingga saat ini masih dapat dikendalikan. Namun, pihaknya mencatat adanya penurunan debit cukup signifikan di Mata Air Batukarut.
“Kalau sampai saat ini Alhamdulillah untuk kondisi air baku memang masih stabil dan masih bisa dikondisikan. Cuma yang turun itu debitnya di Mata Air Batukarut,” ujar Dian, kepada Radar Sukabumi, pada Selasa (1/9).
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal debit Mata Air Batukarut berada di kisaran 150 liter per detik. Namun, berdasarkan pemantauan terakhir, debitnya telah turun menjadi sekitar 110 liter per detik.
“Penurunan tersebut menjadi perhatian Perumda AM TBW, karena apabila kondisi kemarau terus berlangsung dan debit kembali menurun, distribusi air kepada pelanggan berpotensi ikut terdampak,” tegasnya.
Lanjut Dian, untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Perumda AM TBW telah menyiapkan sejumlah skenario. Salah satunya melalui rekayasa distribusi atau penggiliran aliran air agar kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi.
“Kalau debitnya terus turun, rencana kita yang pertama melakukan rekayasa pengalihan gilir air. Yang penting masyarakat tetap mendapatkan air dan kebutuhan di rumahnya terpenuhi,” jelasnya.
Selain melakukan pengaturan distribusi, Perumda AM TBW juga menyiapkan pengaktifan sejumlah sumur bor sebagai sumber alternatif. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menjaga kontinuitas pelayanan apabila sumber air permukaan mengalami penurunan debit lebih lanjut.
Upaya lainnya yakni memaksimalkan armada tangki air untuk membantu wilayah yang nantinya mengalami gangguan atau terdampak penurunan pasokan.
“Yang kedua mungkin kita akan mengaktifkan sumur bor atau artesis. Kemudian kita juga akan memaksimalkan potensi kendaraan tangki untuk pengiriman ke wilayah yang terdampak,” kata Dian.
Saat ini, penggiliran distribusi air memang sudah mulai diterapkan di sejumlah wilayah pelayanan, khususnya kawasan Sukaraja dan Gaharu yang masuk dalam sebagian wilayah pelayanan Unit 1.
Menurut Dian, kondisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rekayasa distribusi agar keterbatasan debit air dapat diatur sehingga pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
“Kalau bergilir ada, khusus di daerah yang direkayasa. Seperti Sukaraja, Gaharu, itu wilayah pelayanan Unit 1,” ungkapnya.
Sementara itu, kondisi sumber air di Cinumpang hingga kini masih relatif aman. Debit sumber tersebut tercatat sekitar 210 liter per detik dan masih berada dalam kondisi stabil.
“Kalau untuk Cinumpang alhamdulillah masih stabil. Debitnya sekitar 210 liter per detik, masih normal dan mudah-mudahan bisa terus seperti itu,” ujarnya.
Dian menyebutkan, Perumda AM TBW tidak hanya mengandalkan satu sumber air baku. Selain Cinumpang dan Batukarut, perusahaan daerah tersebut juga memiliki sejumlah sumber lainnya, di antaranya PH Pondok Halimun dan Cigadog, serta sumber air dari sumur bor dalam.
Dian pun mengakui bahwa dalam kondisi sumber air yang mengalami penurunan debit, pelayanan kepada masyarakat mungkin belum sepenuhnya maksimal. Namun, pihaknya memastikan berbagai langkah terus dilakukan agar kebutuhan air pelanggan tetap dapat terlayani.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta ikut berperan menghadapi kondisi kemarau dengan menggunakan air secara bijak. Perumda AM TBW mengimbau pelanggan untuk menghemat penggunaan air sekaligus menyiapkan cadangan air di rumah masing-masing.
“Dengan kondisi seperti sekarang, ketika debit air turun, kami mengharapkan masyarakat dapat menghemat air dan menampung air untuk persediaan di rumah tangga,” pungkas Dian. (ris)

1 hour ago
1















































