KUNJUNGAN: Sejumlah santri dan tenaga pendidik Madrasah Aliyah (MA) Persis 68 Warudoyong Kota Sukabumi, saat mengunjungi POB Cibeas, belum lama ini. FOTO: ISTIMEWA
SUKABUMI – Ada pemandangan menarik di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (18/4/2026).
Di tengah suasana ujian akhir bagi siswa kelas 12, para santri Madrasah Aliyah (MA) Persis 68 Warudoyong Kota Sukabumi justru melakukan kegiatan yang jarang ditemui di sekolah menengah lainnya, yakni praktik langsung Rukyat Hilal awal bulan Dzul Qo’dah 1447 H.
Kegiatan ini merupakan puncak dari pembelajaran Ilmu Falak yang telah mereka pelajari di bangku madrasah. Setelah sebelumnya sukses melakukan kalibrasi arah kiblat di pemukiman warga, kini para santri ditantang untuk membuktikan hasil perhitungan astronomi (hisab) mereka di ufuk barat setelah matahari terbenam.
Dalam pengamatan itu, para santri tidak hanya menggunakan alat modern seperti teleskop dan theodolite.
Mereka juga diperkenalkan dengan alat tradisional legendaris bernama Bektang, alat bantu rukyat yang diambil dari nama dua ahli falak kenamaan, Sa’aduddin Djambek dan Tang Soban Marfu sosok ahli falakiyah asal Sukabumi.
Sebelum melakukan praktek Rukyat Hilal langsung ke lapangan, para santri dibekali pelatihan dengan beberapa bahan materi, diantaranya metode kemunculan hilal, berbagai kriteria yang digunakan, hisab ijtima` akhir bulan, waktu matahari terbenam, ketinggian hilal, elongasi matahari maupun hilal.
Pengampu Ilmu Falak MA 68 Persis Warudoyong, Asep Deni Muttaqin menjelaskan, bahwa praktik ini sangat krusial karena menyangkut akurasi pelaksanaan ibadah umat Islam.
“Penentuan awal bulan Hijriyah adalah persoalan penting dalam agama karena menyangkut kapan kita memulai puasa, Idul Fitri, hingga Idul Adha. Melalui praktik ini, santri diajarkan cara menghitung posisi bulan, ketinggian, hingga elongasi, lalu membuktikannya secara langsung lewat observasi benda langit,” ujar Asep Deni di lokasi.
Asep menambahkan bahwa metode Rukyatul Hilal telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Jika hilal tidak terlihat akibat faktor cuaca atau posisi bulan yang masih rendah, maka berlaku hukum istiqmal atau penyempurnaan bilangan bulan menjadi 30 hari.
“Meski sekarang teknologi sudah sangat canggih dengan perekaman foto lewat kamera teleskop sebagai bukti otentik, esensi dari rukyat tetaplah sama, yaitu ketaatan pada syariat,” tambahnya.
Menurut Asep, Pelaksanaan rukyatul hilal di Indonesia diyakini telah berlangsung sejak Islam masuk wilayah Nusantara pada abad pertama Hijriyah.
Setiap tanggal 29 Sya`ban dan Ramadan, umat Islam beramai-ramai pergi ke bukit yang tinggi atau pantai-pantai untuk berusaha melihat hilal di ufuk Barat setelah matahari terbenam.
“Jika hilal berhasil terlihat maka malam itu dan keesokan harinya merupakan tanggal satu bulan berikutnya. Namun jika hilal tidak terlihat, malam itu dan keesokan harinya merupakan tanggal 30 di bulan yang sedang berjalan,” terang dia.
Metoda pelaksanaan rukyatul hilal dari masa ke masa mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di masa lalu penggunaan metode dan peralatan yang sederhana dan tidak terkoordinir sampai di jaman kini yang memakai metode dan peralatan modern, perukyat yang terlatih dan dikoordinir oleh Kementrian Agama.
“Pelaksanaan rukyatul hilal pada masa kini, pada umumnya mengunakan hasil data hisab posisi hilal di langit dan memperkecil kesalahan melihat hilal,” tambahnya.
Sementara itu, Bagian Kesiswaan MA Persis, Ari Zakaria Degel, berharap kegiatan rutin tahunan ini menjadi bekal berharga bagi para santri saat kembali ke masyarakat nanti.
Menurutnya, tidak banyak lembaga pendidikan formal maupun informal di Kota Sukabumi yang mengkaji Ilmu Falak secara mendalam hingga ke tahap praktik lapangan.
“Kami ingin santri memiliki keahlian khusus yang jarang dimiliki orang lain, mulai dari kalibrasi arah kiblat, penentuan waktu shalat, hingga kalender dan gerhana. Ini adalah bekal nyata untuk berkiprah di tengah umat,” pungkas Ari.
Dengan pelatihan yang meliputi materi ijtima’ akhir bulan hingga kecerlangan hilal, para santri MA Persis 68 Warudoyong ini diharapkan mampu menjadi generasi penerus ahli falak yang mampu menyelaraskan antara tuntunan agama dan perkembangan teknologi astronomi. (*)

13 hours ago
15







































