Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal
PALESTINA, Iran, dan negeri-negeri Islam terjajah lainnya telah mengajarkan kita sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar politik atau mazhab. Mereka mengajarkan panggilan nurani kemanusiaan. Mereka menunjukkan manhaj kemuliaan di tengah hegemoni dunia.
Kita sering terjebak dalam sekat-sekat sempit. Tokoh agama sibuk dengan mazhab, politisi sibuk dengan retorika, cendekiawan sibuk dengan analisis. Tapi nurani? Rapuh. Padahal, jika penindasan di depan mata tidak lagi mengusik hati, maka gelar ulama, kursi kekuasaan, atau titel akademik hanyalah debu di hadapan Allah. Palestina dan Iran, bersama Suriah, Yaman, dan Kashmir, telah mengajarkan kita keteguhan, kemuliaan, dan tawakkal yang aktif. Mereka bukan musuh mazhab. Mereka adalah cermin: manusia yang berani berkata “Tidak” pada kezaliman, meski harus membayar dengan darah dan air mata.
Masjidil Aqsha bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol kesucian, penjaga agama, bagian dari al-dharuriyyat al-khamsah. Zionis Israel menodainya dengan peluru, buldoser, dan kaki yang menginjak. Imam Nawawi pernah menulis: wajib bagi Muslim menjaga masjid, gereja, dan tempat ibadah lain dari agresi, meski milik non-Muslim. Karena semuanya adalah ruang suci. Maka, diam terhadap penodaan itu bukan netralitas. Itu pembiaran. Itu kezaliman.
Gaza hari ini adalah laboratorium penderitaan manusia. Bayi dibantai, rumah sakit dihancurkan, kelaparan diblokade. Rasulullah bersabda: hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim. Imam al-Ghazali menulis: diam terhadap kezaliman adalah tanda matinya hati. Barangsiapa diam padahal mampu mengingkari, maka ia turut serta dalam kezaliman itu.
Iran pun bukan ancaman sektarian. Ia adalah anomali dalam sistem global. Sanksi demi sanksi tidak mematahkan, justru melahirkan inovasi. Dari roket hingga drone, dari nanoteknologi hingga kemandirian ekonomi. Iran membuktikan perintah Al-Qur’an: siapkanlah segala kekuatan yang kamu sanggupi.
Rakyat Gaza dan Iran mengajarkan sabar yang aktif. Sabar bukan pasrah. Sabar adalah keteguhan pada prinsip. Ibu-ibu Gaza mendidik anak-anak sebagai sekolah para pahlawan. Iran menjadikan sanksi sebagai katalisator inovasi. Mereka membuktikan iman lebih kuat daripada materi.
Kepada para pembenci yang bersembunyi di balik kata “netralitas”: kalian jatuh dalam kontradiksi. Keadilan itu mutlak, terlepas dari mazhab. Diam atau mencela saat genosida terjadi hanya karena perbedaan faham adalah kerusakan berpikir. Rasulullah bersabda: tolonglah saudaramu, baik yang zalim maupun yang dizalimi. Tolong yang mazlum dengan membelanya. Tolong yang zalim dengan mencegahnya. Diam adalah penggembosan yang diharamkan.
Pelajaran dari Palestina, Iran, dan negeri-negeri terjajah lainnya jelas. Kemandirian berpikir: keluar dari taqlid buta narasi Barat. Keseimbangan kekuatan: doa harus disertai ikhtiar. Dialektika kesabaran: sabar adalah pematahan kehendak musuh. Persatuan Islam: perbedaan furu’iyah dimaklumi, persatuan wajib. Ekonomi perlawanan: keterbatasan melahirkan kreativitas. Syahadah: mati mulia lebih baik daripada hidup hina.
Keberpihakan kita bukan ideologi sempit. Ia adalah panggilan nurani universal. Membela yang tertindas adalah fardhu kifayah yang menjadi fardhu ‘ain saat umat lemah. Jika manusia adalah tolok ukur, maka tindakan benar adalah berdiri bersama kemuliaan.
Wallahu a’lam bis-shawab. Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Ni’mal maula wa ni’mannashir. Semoga tulisan ini menjadi pelajaran yang membangunkan nurani, menyatukan umat dalam kebenaran—bukan karena mazhab, melainkan karena rahmatan lil ‘alamin.(*)
PENULIS : Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal

14 hours ago
8









































