Inovasi Berkelas, SMAN 1 Cibadak Sabet Juara Pembinaan Keselamatan Lalu Lintas

7 hours ago 9

SUKABUMI – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMA Negeri 1 Cibadak. Untuk tahun ketiga berturut-turut sejak 2023, sekolah ini kembali meraih juara dalam ajang Pembinaan Keselamatan Lalu Lintas yang diselenggarakan oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi—yang sebelumnya dikenal sebagai kegiatan Pelajar Pelopor Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pada pemilihan tahun ini, dua siswa terbaik, Auliya dan Marcel Dwi Anggara, resmi dinobatkan sebagai pemenang setelah melalui proses seleksi ketat dari tingkat sekolah hingga kabupaten. Capaian ini semakin mengukuhkan SMAN 1 Cibadak sebagai sekolah yang konsisten mencetak generasi muda peduli keselamatan jalan.

Bagi Auliya, perjalanan di ajang ini bukan hal baru. Sejak 2023, ia selalu dipercaya mewakili sekolah dan selalu berhasil membawa pulang gelar juara, bahkan hingga menembus tingkat Provinsi Jawa Barat.

Awal keterlibatannya dimulai dari kepedulian terhadap tingginya masalah keselamatan jalan di masyarakat.

“Pelajar bukan hanya pengguna jalan. Kita bisa menjadi agen perubahan yang membawa edukasi dan inovasi,” ungkap Auliya.

Saat itu ia masih aktif sebagai anggota Forum Anak Daerah Kabupaten Sukabumi. Kompetisi ini menjadi ruang baginya untuk terus belajar, meneliti, sekaligus memberi kontribusi nyata bagi lingkungannya.

Tahun ini menjadi istimewa karena ia tidak lagi berjuang sendirian. Ia ditemani rekannya, Marcel Dwi Anggara, yang turut memperkuat kualitas inovasi dan presentasi mereka.

“Kemenangan ini bukan sekadar prestasi, tetapi amanah untuk terus konsisten mengampanyekan budaya tertib berlalu lintas,” ujarnya.

Seleksi dimulai dari tingkat sekolah melalui pemeriksaan administrasi, uji wawasan regulasi lalu lintas dan penilaian terhadap kesiapan inovasi.
Kemudian berlanjut ke tingkat kabupaten dengan penilaian lebih mendalam meliputi substansi materi, kemampuan komunikasi, hingga kesiapan advokasi di masyarakat.
Konsistensi pengetahuan, kemampuan mengembangkan inovasi, dan penguasaan regulasi menjadi alasan Auliya kembali mendapatkan kepercayaan sekolah selama tiga tahun berturut-turut.

Namun perjalanan tahun ini tidak mudah. Sebagai siswa kelas XII, Auliya dan Marcel harus membagi fokus antara persiapan lomba, ujian akhir, hingga pendaftaran perguruan tinggi.
“Tantangan terbesar adalah manajemen waktu. Tapi itu justru melatih kami lebih disiplin,” tutur Auliya.

Berbeda dari banyak sekolah lain, Auliya dan Marcel tidak memiliki pembimbing khusus dalam perancangan teknis inovasi. Guru pendamping, Nasrudin, membantu dalam urusan administrasi dan perizinan, namun proses riset hingga penyusunan konsep dilakukan hampir sepenuhnya secara mandiri.

Lanjut Auliya aat perlombaan keduanya saling berbagi peran sesuai keahlian dimana Auliya fokus pada regulasi, penyusunan argumentasi, dan konsep sementara Marcel memperkuat aspek inovasi teknis dan penyempurnaan desain tentunya kolaborasi ini membuat penyampaian mereka lebih matang, efektif, dan meyakinkan.

Adapun tiga inovasi unggulan yang mengangkat mereka menjadi juara yaitu Inovasi pertama yang dipelopori Auliya sejak 2023 berupa sistem peringatan dini di persimpangan. Sensor bunyi akan aktif saat terdeteksi potensi pelanggaran atau situasi berbahaya, sehingga meningkatkan kewaspadaan pengendara. Inovasi ini pernah ia presentasikan hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.

“Invasi kedua aitu Speed Bump Berbasis Fluida Non-Newtonian yaitu fleksibel saat kendaraan berjalan pelan,mengeras otomatis saat pengendara melaju terlalu cepat.
Konsep ini lebih nyaman bagi pengendara tertib, namun memberi efek perlambatan kuat bagi pelanggar. Lebih efisien dibandingkan speed bump konvensional. Kemudian inovasi ketiga yang kami usung Aspal Hangat Berbahan Tambah Biji Plastik,” imbuhnya.

Auliya mengungkapkan bahwa salah satu masalah terbesar keselamatan pelajar adalah modifikasi kendaraan yang tidak memenuhi standar, seperti knalpot bising, motor ceper,hingga perubahan teknis yang mengurangi stabilitas. Modifikasi tersebut sering diminati karena gaya, namun berisiko tinggi menimbulkan kecelakaan.

Sementara itu, Marcel menjelaskan awal mula idenya tentang inovasi tersebut melihat dua masalah sekaligus pertama kerusakan jalan yang terus berulang dan tingginya limbah plastik. Dari diskusi sederhana, mereka menemukan solusi memadukan keduanya.
Menurutnya, Campuran biji plastik Polypropylene (PP) pada aspal diyakini dapat meningkatkan daya ikat,membuat jalan lebih tahan retak,dan sekaligus membantu mengurangi sampah plastik.

“Riset kami sederhana tapi relevan. Kami mencari solusi realistis yang bisa diterapkan pemerintah,” jelas Marcel.

“Inovasi yang kami buat bersifat preventif—mengurangi risiko dari sisi perilaku pengendara dan sekaligus memperbaiki infrastruktur jalan yang menjadi penyebab kecelakaa,” terangnya.

Ketertarikan Marcel pada keselamatan lalu lintas tumbuh sejak kecil karena kedekatannya dengan ayahnya, I Wayan Sunarta, anggota kepolisian yang menanamkan nilai-nilai disiplin dan keselamatan berkendara.
“Saya ingin meneruskan nilai yang saya pelajari dari ayah bahwa keselamatan adalah tanggung jawab kita Bersama,” imbuhnya.

Marcel mengungkapan a un mempersiapkan iri saat mengikuti oba seperti belajar intensif Undang-Undang LLAJ, memahami rambu-rambu, menganalisis masalah sekitar, serta mematangkan inovasi.
Keterbatasan waktu menjadi hambatan terbesar, namun justru membuat mereka lebih efektif dan fokus.

Walaupun kembali meraih juara, tahun ini Auliya dan Marcel tidak akan melanjutkan ke tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Kami sudah kelas XII. Fokus kami sekarang adalah ujian akhir dan seleksi perguruan tinggi,” jelas keduanya.

Sementara itu ditemui secara terpisah Kepala SMAN 1 Cibadak, Isda Sugara, menyampaikan apresiasi luar biasa atas capaian siswanya. Menurutnya ini bukan sekadar lomba tetapi tentang tanggung jawab moral dan kepedulian terhadap keselamatan nyawa di jalan raya.

Isda juga menegaskan bahwa inovasi yang dikembangkan siswa adalah bukti bahwa kreativitas anak muda dapat menjadi solusi bagi persoalan nasional.
“Teknologi tanpa empati adalah alat yang kosong. Namun inovasi yang lahir dari keinginan melindungi sesama adalah bentuk kecerdasan tertinggi,” ujarnya.

Isda menambahkan bahwa keberhasilan ini membuktikan siswa SMAN 1 Cibadak mampu berpikir kritis, menjadi solusi dan menjadi inovator masa depan.

“Sekolah berkomitmen penuh mendukung pengembangan inovasi ini ke depannya,” pungkasnya.(wdy)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |