Dokter Spesialis SPH Berikan Tips Aman Puasa bagi Penderita Diabetes Melitus

1 day ago 16

Langgam.id — Penyakit diabetes melitus menjadi salah satu kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus menjelang Ramadan. Perubahan pola makan, waktu tidur, dan aktivitas selama berpuasa dapat memengaruhi kadar gula darah, sehingga persiapan medis menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.

Dokter spesialis penyakit dalam Semen Padang Hospital (SPH), Mutia Faurin, mengatakan diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat kekurangan insulin atau kerja insulin yang tidak optimal.

“Saat berpuasa, terjadi perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas yang dapat memengaruhi kadar gula darah. Karena itu, pasien diabetes perlu perhatian dan persiapan khusus,” ujarnya dalam podcast bersama Radio Classy FM Padang.

Mutia menjelaskan, tidak semua penyandang diabetes diperbolehkan menjalankan ibadah puasa. Pasien yang umumnya masih dapat berpuasa adalah penderita diabetes tipe 2 dengan kadar gula darah terkontrol, tidak memiliki komplikasi berat, serta berisiko rendah mengalami hipoglikemia.

Sebaliknya, pasien dengan gula darah tidak terkontrol, sering mengalami hipoglikemia berat, ibu hamil dengan diabetes, serta penderita komplikasi serius seperti gagal ginjal, penyakit jantung berat, atau pasca-stroke tidak dianjurkan untuk berpuasa.

Menurut dia, puasa tanpa persiapan dapat memicu sejumlah risiko, antara lain hipoglikemia (gula darah terlalu rendah), hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), dehidrasi, hingga perburukan komplikasi diabetes.

Mutia menekankan pentingnya pengaturan pola makan selama Ramadan. Saat sahur, pasien dianjurkan memilih karbohidrat kompleks seperti nasi merah, roti gandum, atau ubi. Asupan tersebut perlu dilengkapi dengan protein dari ikan, ayam, telur, tahu, atau tempe, serta sayuran dan lemak sehat seperti alpukat dan kacang-kacangan. Kecukupan cairan juga harus diperhatikan.

Saat berbuka, ia menyarankan agar dilakukan secara bertahap. Berbuka dapat diawali dengan air putih dan kurma atau buah rendah gula, kemudian dilanjutkan dengan konsumsi obat sesuai anjuran dokter, sebelum menyantap makanan utama dengan prinsip gizi seimbang: seperempat karbohidrat, seperempat protein, dan setengah porsi sayuran. Makan berlebihan serta konsumsi makanan tinggi gula perlu dihindari.

Camilan setelah tarawih diperbolehkan dalam jumlah wajar, dengan pilihan yang lebih sehat seperti buah, yogurt rendah gula, atau roti gandum.

Pengaturan obat, lanjut Mutia, harus disesuaikan sebelum Ramadan. Waktu minum obat umumnya dialihkan saat sahur dan berbuka, dengan kemungkinan penyesuaian dosis. Karena itu, pasien sangat dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berpuasa.

Aktivitas fisik tetap diperbolehkan, tetapi dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti berjalan santai atau bersepeda. Waktu yang disarankan adalah menjelang berbuka atau satu hingga dua jam setelah berbuka. Olahraga berat sebaiknya dihindari.

Secara umum, puasa dapat memberikan manfaat bagi pasien diabetes apabila dikelola dengan baik, seperti membantu pengendalian berat badan dan memperbaiki pola makan. Namun, pasien harus memahami tanda bahaya kadar gula darah rendah maupun tinggi dan segera membatalkan puasa jika gejala tersebut muncul.

Mutia menegaskan, kunci utama puasa aman bagi penderita diabetes adalah konsultasi sebelum Ramadan, menjaga pola makan dan minum, mengonsumsi obat sesuai anjuran, memantau gula darah secara rutin, serta tidak memaksakan diri.

“Dalam agama terdapat keringanan bagi orang sakit. Jadi, kesehatan tetap menjadi prioritas,” katanya.

Dengan persiapan dan pengawasan medis yang tepat, pasien diabetes tetap dapat menjalani ibadah puasa secara aman dan nyaman.

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |