Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera: Rakyat Sebagai Penggerak Perubahan dalam Krisis Iklim

1 day ago 9

Langgam.id – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang bersama jaringan masyarakat sipil, komunitas seni, kolektif kreatif, serta kelompok masyarakat terdampak akan menyelenggarakan Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera pada 16–18 April 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Kota Padang.

Festival ini merupakan ruang kolaboratif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu wadah bersama guna membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan mendorong gerakan kolektif dalam menghadapi krisis iklim serta memperjuangkan transisi energi yang berkeadilan.

Diki Rafiqi, Direktur LBH Padang, mengatakan perhelatan Climate Fest Vol. 2 ini sebagai arena kampanye bersama untuk menyuarakan krisis iklim yang saat ini melanda sebagian besar wilayah pesisir pantai barat Sumatera.

“Krisis iklim hari ini tidak lagi dapat dipahami semata sebagai fenomena alam. Lebih dari pada itu, ini telah menjelma menjadi krisis multidimensi yang menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan politik kehidupan masyarakat. Climate Fest Vol. 2 ini hadir untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, selain itu di Climate Fest ini juga akan membuka ruang dialog antara masyarakat, komunitas, akademisi, dan pemangku kebijakan terkait isu energi dan lingkungan di Sumatera Barat” jelas Diki.

Diki juga menambahkan, di Sumatera Barat, dampak krisis ini semakin nyata. Intensitas bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan terus meningkat. Masyarakat yang bergantung pada alam, petani, nelayan, masyarakat adat, menjadi kelompok yang paling terdampak atas situasi ini.

“Kami menilai situasi ini merupakan konsekuensi dari model pembangunan yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang hidup yang harus dijaga. Ekspansi industri ekstraktif, proyek energi skala besar, serta kebijakan pembangunan yang minim partisipasi publik telah mempercepat kerusakan ekologis sekaligus mempersempit ruang hidup dan akses masyarakat” lanjutnya.

LBH Padang mengharapkan melalui perhelatan Climate Fest Vol. 2 ini dapat meningkatnya kesadaran publik mengenai krisis iklim dan keadilan energi di Sumatera Barat.

“Dalam beberapa tahun terakhir, agenda transisi energi didorong sebagai solusi atas krisis iklim global. Peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan dipandang sebagai langkah penting untuk menekan emisi karbon. Namun dalam praktiknya, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang kompleks. Berbagai proyek energi, termasuk yang diklaim sebagai energi bersih, seringkali tetap dijalankan dengan pola yang sama yaitu Sentralistik, Eksploitatif, Minim transparansi, Mengabaikan partisipasi masyarakat” jelas Diki.

Lebih dari pada itu, Diki menyebut transisi energi justru berpotensi melahirkan bentuk ketidakadilan baru, Perampasan tanah dan ruang hidup, Penggusuran masyarakat, Konflik agraria, Kerusakan ekosistem.

“Dalam konteks ini, Climate Fest Vol. 2 hadir untuk mendorong perspektif transisi energi berkeadilan, yaitu sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Selama ini, diskursus krisis iklim sering didominasi oleh negara, korporasi, dan lembaga internasional. Sementara masyarakat yang terdampak langsung justru jarang dilibatkan secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan” jelas Diki.

Climate Fest Vol. 2 ini mengusung narasi utama yaitu “Voice of the Earth Sumatera” dengan harapan suara-suara rakyat yang selama ini diabaikan, dapat tersuarakan lebih keras dan lantang dalam kegiatan ini.

“Festival ini menjadi ruang untuk, mengembalikan suara masyarakat dalam isu iklim, mengangkat pengalaman langsung komunitas terdampak, mendorong partisipasi generasi muda dalam isu transisi energi yang berkeadilan” kata Diki.

Climate Fest Vol. 2 dirancang bukan sekadar sebagai acara hiburan, tetapi sebagai ruang politik rakyat, ruang edukasi publik, dan ruang ekspresi kreatif. Selama tiga hari pelaksanaan, festival akan menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang menggabungkan pendekatan edukatif, partisipatif, dan kultural.

emangat perjuangan lingkungan dan keadilan energi akan bergema dalam Climate Fest Vol. 2: Voice of the Earth Sumatera. Festival ini hadir sebagai ruang kolaboratif yang mempertemukan masyarakat, akademisi, seniman, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyuarakan krisis iklim serta memperjuangkan masa depan bumi yang berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Diskusi Publik bertajuk “Rakyat sebagai Penggerak Perubahan”, yang akan mengupas secara kritis pola pembangunan proyek energi di Sumatera Barat, praktik eksklusi masyarakat dari ruang hidup, serta relasi kuasa antara negara, korporasi, dan rakyat. Diskusi ini menghadirkan Ardinis Arbain (akademisi), Diki Rafiqi (Direktur LBH Padang), Ayu Dasril (perwakilan masyarakat terdampak), Boy Candra (penulis), dan Gustika Jusuf Hatta (aktivis). Sementara itu, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Drs. H. Muhidi, M.M., dijadwalkan hadir sebagai pemangku kepentingan dan masih dalam tahap konfirmasi.

Selain itu, festival ini membuka ruang Open Mic: Rakyat Angkat Suara, yang memungkinkan masyarakat dari Talang, Tandikek, Singgalang, Singkarak, Ombilin, Koto Sani, dan wilayah lainnya untuk menyampaikan pengalaman mereka secara langsung. Kehadiran media diharapkan mampu memperluas gaung suara rakyat ke publik yang lebih luas.

Upaya memperkuat partisipasi publik juga diwujudkan melalui Workshop Jurnalisme Warga yang difasilitasi jurnalis Aidil Ichlas. Kegiatan ini bertujuan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengangkat isu transisi energi melalui media sosial dengan pendekatan jurnalisme warga dan narasi berbasis pengalaman nyata.

Tak hanya diskusi, Climate Fest Vol. 2 juga menghadirkan Pameran Sensori dan Karya Seni yang menyuguhkan pengalaman imersif melalui visual, audio, sentuhan, dan ruang interaktif. Pengunjung diajak merasakan secara langsung dampak proyek energi terhadap kehidupan masyarakat, tidak hanya melalui data, tetapi juga melalui pengalaman emosional.

Festival ini semakin semarak dengan hadirnya Ruang Kreatif dan Partisipatif, seperti art therapy dan bedah karya, bioskop warga yang memutar film perjuangan komunitas, ruang literasi lingkungan, sablon cukil untuk kampanye, hingga lomba menggambar anak-anak dan lomba konten kreator.

Sebagai bentuk penguatan ekonomi alternatif, digelar pula Pasar Rakyat dan Bazaar Komunitas yang menampilkan hasil tani langsung dari masyarakat di wilayah terdampak proyek transisi energi. Selain itu, produk lokal UMKM tanpa perantara turut dipasarkan, sekaligus menjadi medium kampanye atas konflik ruang hidup yang terjadi.

Puncak acara akan ditutup dengan Konser Musik, yang menghadirkan sejumlah musisi seperti The Jansen, Kevin Cotok, Ghots Buster, Raze, The Venyamin, Lintang Utara, WesternTiger, Tardub, Jordansson, dan Voudgrip. Konser ini menjadi ruang ekspresi seni sekaligus sarana penyebaran pesan keadilan iklim kepada publik yang lebih luas.

Climate Fest Vol. 2 diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif, memperkuat solidaritas lintas komunitas, serta mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menghadapi krisis iklim dan memperjuangkan keadilan energi.

Melalui pertemuan berbagai elemen masyarakat, festival ini menjadi ruang bersama untuk merawat harapan dan menyuarakan kebenaran. LBH Padang pun mengajak seluruh kalangan untuk hadir, terlibat, dan menjadi bagian dari gerakan menjaga bumi demi masa depan yang berkelanjutan.

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |