Nunung Nurjanah: Menjaga Warisan Kuliner Sukabumi

4 hours ago 5
Mantri BRI unit Karang Tengah Ibu Nunung Nurjanah (54) melestarikan kuliner tradisional khas Sukabumi

SUKABUMI — Lokasi warungnya kecil, berdiri di pinggir rel kereta Sukabumi–Bogor pelintasan KA Pangrango. Di sanalah Ibu Nunung Nurjanah (54) melestarikan salah satu kuliner tradisional khas Sukabumi Kue Cincin.

Awalnya, Nunung tidak langsung membuat Kue Cincin. Ia lebih dulu menjual dodongkal dan bubur. Sekitar 10 tahun lalu, lewat keluarga, ia belajar membuat Kue Cincin dan cucur. “Ilmu bikin Kue Cincin dari keluarga. Ada pesanan untuk kawinan, hajatan, bahkan sampai Bogor dan Ciawi. Kadang ada yang pesan ke luar daerah,” tuturnya ibu dua anak ini.

Produksi harian tidak menentu, rata-rata omzet sekitar Rp600 ribu. Harga Kue Cincin Rp2.000 per tiga buah. Namun, biaya produksi cukup tinggi karena menggunakan gula aren asli dan harga beras yang terus naik. “Ekonomi sulit, keuntungannya tipis,” katanya.

Nunung mulai bermitra dengan BRI sejak 2004. Pinjaman awal Rp4 juta, kini berkembang menjadi Rp200 juta. “Kalau tidak ada dorongan dari BRI, mungkin usaha ini tidak jalan. Setoran rutin membuat usaha tetap berputar,” jelasnya.

Program KUR BRI memberi dampak signifikan. Modal tambahan digunakan untuk memperluas usaha, merambah sembako, dan menambah variasi kuliner tradisional seperti ranginan. “Semakin banyak tambahan, semakin banyak yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Kue Cincin buatan Nunung dikenal dengan aroma gula aren asli yang kuat, berpadu dengan bubuk kayu manis. Teksturnya renyah di luar, namun tetap lembut di dalam. “Orang bilang wangi gula arennya beda, rasanya khas,” katanya.

Meski belum banyak pesaing, kendala tetap ada. Harga bahan baku sering naik, terutama gula aren. Pemasaran juga terbatas karena Nunung tidak ingin repot menjangkau pasar lebih luas. “Kadang ada yang jual lebih murah, tapi rasanya beda. Kualitas kita tetap dijaga,” ujarnya.

Bagi Nunung, Kue Cincin bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari tradisi Sunda. “Sekarang anak-anak lebih kenal donat modern. Saya ingin mereka tetap merasakan Kue Cincin. Acara nyunda harus ada Kue Cincin,” katanya.

Nunung berharap dukungan BRI dan pemerintah terus berlanjut. “Setoran lancar, rizki dilancarkan. UMKM seperti saya butuh dorongan. Dari BRIMO juga ada bantuan. Harapan saya usaha ini tetap berjalan dan bisa diwariskan,” ujarnya.

Eki Dyata Fredi Setiawan, Pemimpin Cabang KC BRI Cibadak, menilai usaha Nunung sebagai bukti nyata peran BRI dalam melestarikan kuliner tradisional.

“Kue Cincin bukan sekadar jajanan, tetapi bagian dari identitas budaya Sukabumi. Ibu Nunung membuktikan bahwa dengan dukungan KUR BRI, kuliner tradisional bisa bertahan di tengah gempuran makanan modern. Dari warung kecil di pinggir rel, Kue Cincin kini dikenal hingga luar daerah,” ujarnya.

Menurut Eki, keberhasilan Nunung menunjukkan bahwa BRI bukan hanya bank, melainkan mitra perjalanan hidup. “Pinjaman KUR bukan sekadar angka, tetapi energi yang menjaga tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. Ketika usaha seperti Kue Cincin berkembang, dampaknya terasa pada keluarga, masyarakat, dan budaya daerah.”pungkasnya. (*)

Read Entire Article
Anggam Lokal| Radarsukabumi| | |